Info Buat Presiden RI Penegakan Hukum Di Riau Masih Lemah?

0
124
IMG_20160123_105032
Aparat Diminta Untuk Melakukan Penyelidikan Terhadap Dugaan Terjadinya Penyelewengan Terminal Pengisian BBM Di Dumai

Pekanbaru-Riau,kompasriau.com. Info buat Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo, bahwa penegakan hukum di wilayah Propinsi Riau disinyalir masih lemah.?. Hal tersebut terbukti sesuai hasil investigasi dan wawancara tim wartawan kompasriau.com kepada sejumlah masyarakat di berbagai daerah di Propinsi Riau.

Menurut Bagus, S,  maraknya aktivitas dugaan tindak pidana pengelapan dan penadah Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar dan jenis Bensin di sepanjang pinggir jalan raya, wilayah hukum Kecamatan Bukit Kapur, Kota Dumai, disinyalir akibat lemahnya penegakan hukum di daerah tersebut.

Pengamatan tim wartawan kompasriau.com dan tim DPD Pemantau Kinerja Aparatur Negara Propinsi Riau, Kamis (21/1/2016) dan Jum’at (22/1/2016) di sepanjang jalan raya lintas Bukit Kapur menuju Duri XIII, diemukan adanya oknum-oknum para mafia penadah maupun pengelapan BBM masih bebas melakukan aktivitasnya setiap hari disinyalir tanpa adanya tindak hukum dari pihak aparat yang berkompoten di daerah tersebut.

Begitu juga aksi dugaan tindak pidana pengelapan atau penadah Crude Palm Oil (CPO minyak mentah) dan Inti Sawit di sepanjang pinggir jalan raya lintas Dumai menuju Pekanbaru bebas beroperasi setiap hari seakan tak  “tersentuh hukum alias kebal hukum”..?

Menurut warga setempat, meskipun aktivitas Bahan Bakar Minyak, CPO dan inti sawit ilegal tersebut terlihat dengan jelas oleh oknum aparat dari pinggir jalan raya lintas umum, namun oknum mafia atau pengelola tempat penampungan BBM, CPO dan Inti sawit ilegal tersebut seakan tidak pernah merasa takut melakukan aktivitasnya “melanggar hukum ” setiap hari.

Seperti lokasi tempat penampungan sekaligus penimbunan BBM ilegal yang berada di Bagan Besar, tepatnya di belakang rumah makan Cendrawasih,tidak begitu jauh dari Markas TNI, Jalan Soekarno Hatta,Kota Dumai. Usaha tempat penampungan BBM ilegal tersebut sudah cukup lama beroperasi hanya menampung BBM dari puluhan unit mobil tanki pengangkut BBM berbagai Merk yang datang dari PT Pertamina (Persero) terminal pengisian BBM  Dumai.

Begitu juga tempat penampungan BBM ilegal yang disebut-sebut dikelola Ginting, Anto, Hen, dan Mar bebas beroperasi setiap hari hanya menampung BBM jenis solar dan bensin dari puluhan unit mobil tanki pengangkut BBM yang datang dari PT Pertamina (Persero) terminal pengisian BBM Dumai-Riau.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Pemantau Kinerja Aparatur Negara Propinsi Riau, Jekson Manalu, meminta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK), untuk turun melakukan penyelidikan terhadap dugaan terjadinya penyimpangan dan penyelewengan di PT Pertamina (Persero) Terminal BBM di Jalan Soekarno Hatta KM 5, Kota Dumai.

Menurut Jekson Manalu, kuat dugaan ada terjadi permainan dan penyimpangan di PT Pertamina (Persero) terminal BBM Dumai. Buktinya di terminal pengisian BBM Dumai, petugas PT Pertamina (Persero) telah memasang segel lengkap dengan Seri di Dum dan Kran mobil tanki pengangkut BBM, namun kenyataan di perjalan sejumlah mobil tanki merk Pertamina dan mobil tanki Merk lainnya masih bisa menyelinap masuk “kencing” BBM di tempat penampungan BBM ilegal tersebut.

“Kenapa bisa terjadi seperti itu, lalu sejauhmana pengawasan pihak PT Elnusa Petrofin Dumai,”tanya Jekson Manalu kepada wartawan kompasriau.com, Kamis (21/1/2016).

Lanjutnya, PT Pertamina (Persero) terminal BBM Dumai tidak bisa lepas tangan, pihak PT Pertamina (Persero) terminal BBM Dumai harus tegur PT Elnusa Petrofin Dumai, sejauhmana pengawasan yang dilakukan oleh PT Elnusa Petrofin Dumai terhadap sejumlah para oknum sopir “nakal” mobil tanki Merk Pertamina yang masih menyelinap masuk “kencing” BBM di lokasi tempat penampungan BBM ilegal tersebut.

Menurut sumber, selain jenis minyak solar dan premium, mafia ilegal juga diduga menampung BBM jenis Avtur, Biodesel, minyak hitam dan petronas. Diduga minyak-minyak ini olah mafia dioplos dan kemudian dijual kepasaran. Soalnya pemakai minyak hitam hanya pabrik kertas PT Indah Kiat di Perawang, sementara minyak jenis Avtur adalah kebutuhan pesawat terbang, seperti halnya penampungan BBM ilegal yang berada di belakang rumah makan cendrawasih.

Informasi yang berhasil di himpun wartawan kompasriau.com di lingkungan PT Pertamina (Persero) terminal BBM Dumai, ada indikasi bahwa BBM yang di “kencing” para sopir di lokasi tempat penampungan BBM ilegal diduga melebihi muatan dari kapasitas delivery order (DO).

Begitu juga oknum pemgelola sejumlah tempat penampungan Crude Palm Oil (CPO) dan Inti Sawil ilegal di wilayah Duri XIII, Kulim KM 9, dan disepanjang jalan raya lintas Gelombang bebas beroperasi setiap hari secara terang-terangan untuk menampung CPO dan inti sawit dari puluhan unit mobil truk pengangkut CPO yang datang dari berbagai Pabril Kelapa Sawit (PKS).

Anehnya, oknum pengelola tempat penampugan CPO dan inti sawit ilegal tersebut disinyalir “dipelihara” oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Sesuai hasil investigasi tim kompasriau.com dilapangan, Kamis (21/1/2016), oknum aparat di daerah itu seakan terkesan tidak mau melakukan tindakan hukum terhadap maraknya aksi penampungan CPO dan inti sawit ilegal tersebut.

Padahal seluruh tempat penampungan CPO dan inti sawit ilegal tersebut tergolong cukup besar, dan beromset ratusan juta rupiah. karena setiap mobil truk tangki yang mengangkut CPO yang datang dari berbagai PKS disinyalir wajib rutin menyelip masuk “kencing CPO” dua sampai tiga gelang/satu unit tangki di lokasi tersebut.

Menurut sumber, dalam satu hari oknum pengelola tempat mafia CPO tersebut dapat menampung CPO dua tangki truk berkapatitas 18.000 kilo gram (18 ton). Selanjutnya, dari hasil keseluruhan yang dapat ditampung diangkut ke salah satu PKS yang berada di daerah Sumatera Utara-Sumut. Selain itu, mafia inti sawit setiap hari dapat menampung inti sawit sekitar 30 ton (30.000 ton). Selanjutnya para mafia inti sawit menjual kepada Bosnya di Medan-Sumut.

“Jadi kalau dari inti sawit yang ditampung di lokasi ini, para mafia mendapat keuntungan sekitar Rp. 45 juta rupiah setiap hari. Jadi, kalau dalam satu bulan, para mafia CPO dan Inti sawit dapat meraih keuntungan atau omset dari penjualan bersih sedikitnya Rp. 700 juta perbulannya, “ucap sumber kepada kompasriau.com yang nama tidak mau ditulis di media.

Berbagai kalangan menyebut maraknya aktivitas mafia CPO dan inti sawit di wilayah hukum jajaran Polda Riau, terindikasi akibat lemahnya penegakan hukum di daerah tersebut. Atau bisa jadi karena adanya indikasi kerjasama terselubung alias KKN antara kaki tangan mafia CPO dengan oknum aparat.?

Selain itu, ada lagi di kawasan desa pinggir 1 (satu) titik dan daerah Kandis 2 (dua) titik tempat penampugan CPO dan inti Sawit. Menurut sumber, aktivitas mafia CPO tersebut terindikasi telah merugikan miliaran rupiah sejumlah perusahaan, seperti perusahaan BUMN (PT SAN) yang berada di Pelabuhan Dumai. Puluhan unit mobil truk pengangkut CPO milik Perusahaan BUMN, seperti pengangkut CPO milik PTP V dan PTV III dengan tujuan DO ke PT SAN di Pelabuhan Dumai, disinyalir masih menyelip masuk “kencing” CPO di lokasi mafia CPO tersebut.

Pengamatan tim kompasriau.com di lapangan, hampir disetiap pintu masuk ke lokasi mafia CPO tersebut, pekerja CPO sengaja mendirikan Pos tempat duduk-duduk pekerja CPO, khusus untuk memberi kode kepada oknum sopir, dan sekaligus mengatur keluar masuknya puluhan unit mobil truk pengangkut CPO “kencing” CPO di lokasi tersebut, selanjutnya para oknum sopir “nakal” melanjutkan perjalanan menuju kawasan industri di Pelabuhan Dumai untuk pengapalan. **(01).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here