Tidak Tercapai Mufakat Damai, Sidang Dilanjutkan

0
67

Dumai, kompasriau-Proses tahapan mediasi di luar persidangan antara penggugat dengan pihak tergugat soal ganti rugi sebidang tanah warga di areal Kilang Pertamina Dumai, sebelumnya telah memakan waktu yang cukup panjang.

Namun pemufakatan berdamai antara tergugat dengan penggugat dalam tenggang waktu mediasi yang diberikan hakim majelis, tidak dapat ditempuh atau tidak tercapai, sehingga perkara itu berlanjut pada sidang pembacaan berkas gugatan.

Sebagaimana siang tadi, Senin (23/5), dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Kelas IB Dumai, Cassarolly Sinaga. SH, sebagai kuasa penggugat telah membacakan berkas gugatannya.

Sidang lanjutan perkara perdata itu hanya berlangsung singkat saja, karena agenda sidang hanya pembacaan berkas gugatan dari pihak penggugat yang dibacakan oleh Pengacara penggugat, Casarolly Sinaga SH.

Usai pembacaan berkas gugatan oleh kuasa penggugat, hakim majelis yang dipimpin Krosbin Lumban Gaol SH. MH, yang juga ketua PN Dumai itu, langsung mengakhiri jalannya sidang dengan mengagendakan sidang lanjutan pecan depan.

Sebagaimana diketahui, Zainun, warga Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, adalah merupakan penggugat dalam perkara ini, dengan dikuasakan kepada pengacara Cassarolly Sinaga. SH dan Mangiring Parulian. Sinaga. S.Sos. SH.

Sedangkan pihak-pihak atau para tergugat dalam perkara ini adalah, PT Chevron Pacific Indonesia, dahulu PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) adalah sebagai tergugat I. Sedangkan tergugat II yakni PT Chevron Pacific Indonesia.

Sementara tergugat III adalah PT Pertamina Pusat di Jakarta dan Pertamina Unit Refinery Dumai, merupakan tergugat IV.

Demikian dengan pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Jakarta, BPN Provinsi Riau maupun BPN Kantor Dumai, juga sebagai tergugat V dalam perkara ini.

Kawasan areal Kilang PT Pertamina Unit Refinery (pengolahan-red) Dumai, menurut Cassarolly, dahulu, dikuasai oleh PT Caltex Pacific Indonesia (CPI), setelah melakukan pembebasan ganti rugi dari sejumlah warga Dumai.

Ringkas cerita, pada tahun 1956, PT CPI pusat sebagai tergugat I dan PT CPI Riau sebagai tergugat II, pernah melakukan proses pembebasan lahan warga yang sekarang merupakan areal Kilang Pertamina Dumai.

Lahan warga yang saat itu sedang proses ganti rugi oleh tergugat I dan II adalah tanah milik sebanyak 462 orang. Sedangkan jumlah luas lahan sudah proses ganti rugi, luasnya sekitar 40,56 hektar.

Menurut Cassarolly, bahwa diantara luas lahan proses ganti rugi itu, termasuk didalamnya tanah Persil nomor 321, atas nama Abdoellah Dang alias Imam Dang. Dimana, Abdoellah Dang alias Imam Dang, adalah merupakan ayah kandung Zainun (penggugat-red).

Akan tetapi, saat proses ganti rugi atau pembebasan lahan warga itu sudah berlangsung, Abdoellah Dang semasa hidupnya, terkendala atau tidak jadi menerima ganti rugi tanahnya.

Pasalnya, surat asli tanah milik Abdoellah Dang, saat hendak proses ganti rugi itu,  tidak dapat ditemukan sehingga tanah miliknya seluas 63.580 M2, tidak jadi diganti rugi oleh tergugat I dan tergugat II.

Namun setelah berjalan waktu dilakukan pencarian surat tanah asli milik Abdoellah Dang, surat asli tanah itu pun ditemukan, dan kemudian Abdoellah Dang  mendatangi tergugat I dan II untuk menyerahkan surat tanah dimaksud agar dilakukan ganti rugi tanahnya.

Apa yang terjadi, PT CPI selaku tergugat I dan II tidak mau membayar ganti rugi tanah Abdoellah Dang orang tua penggugat, padahal PT CPI telah menguasai atau menduduki dan memanfaatkan tanah milik Abdoellah Dang.

Ironisnya kata Cassarolly, walau PT Chevron Pacific Indonesia pusat dan Riau belum mengganti rugi tanah milik Abdoellah Dang, namun PT Chevron Pacific Indonesia (tergugat I dan II-red), lahan orang tua Zainun, secara melawan hukum dialihkan tergugat I dan II ke pihak PT Pertamina.

Dengan bergulir waktu, PT Pertamina (tergugat III dan IV) pun tanpa alas hak yang sah mengurus Sertifikat kepada BPN, kemudian BPN selaku tergugat V pun mengeluarkan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor 387 tahun 1980, seluas 223,76 hektar dan diperpanjang dengan Sertifikat HGB Nomor 3 tahun 2004, atas nama PT Pertamina.**(Tambunan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here