Terkait Maraknya Dugaan Pelanggaran Hukum, Kapolda Riau, Brigjen Pol Drs Supriyanto Bungkam

0
224

Riau-Pekanbaru. kompasriau.com. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau, Brigjen Pol, Drs Supriyanto, terkesan masih memilih bungkam terkait konfirmasi wartawan kompasriau.com perihal maraknya aktivitas mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Crude Palm Oil (CPO/minyak mentah) di wilayah hukum jajaran Kepolisian Daerah Riau.

Kendati kompasriau.com telah dua kali melayangkan konfirmasi kepada Brigjen Pol, Drs Supriyanto, namun hingga berita ini dimuat, oknum petinggi Kepolisian Daerah Riau masih memilih bungkam, aktivitas mafia BBM dan CPO terus marak,merajalela di wilayah hukum Kepolisian Daerah Riau.

Padahal bila dicermati nawa cita agenda Prioritas Ir H Jokowi-Jusuf Kalla, jelas disebut menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya, namun kenyataannya, oknum petinggi aparat penegak hukum di Propinsi Riau terkesan belum terpercaya untuk melakukan langkah-langkah hukum terhadap maraknya aktivitas mafia BBM dan CPO secara ilegal di wilayah hukum jajaran Polda Riau.

Berbagai kalangan masyarakat di Propinsi Riau menilai bahwa hukum itu bisa dibeli.? “Untuk itu, kita harapkan Presiden Republik Indonesia,Ir H Joko Widodo untuk memilih calon Kapolri yang jujur dan komitmen untuk memberantas aktivitas mafia BBM dan CPO yang merajalela di wilayah hukum Polda Riau,”tandas S.Simajuntak yang diamini warga bernama Kriston kepada kompasriau.com, Kamis (26/5/2016).

Pasalnya menurut S.Simanjuntak, penegakan hukum di Propinsi Riau akan terlihat lemah dan statusnya akan terrancam.?  Karena hingga saat ini, bahwa aktivitas para mafia BBM masih marak, merajalela di wilayah hukum Propinsi Riau.

Lanjutnya, PT Pertamina (Persero) terminal BBM Dumai tidak bisa lepas tangan, pihak PT Pertamina (Persero) terminal BBM Dumai harus tegur PT Elnusa Petrofin Dumai, sejauhmana pengawasan yang dilakukan oleh PT Elnusa Petrofin Dumai terhadap sejumlah para oknum sopir “nakal” mobil tanki Merk Pertamina yang menyelinap “kencing” BBM di lokasi tempat penampungan BBM ilegal tersebut.

“Di terminal pengisian BBM Dumai, petugas PT Pertamina (Persero) telah memasang segel lengkap dengan Seri di Dum dan Kran, namun diperjalanan, puluhan unit mobil tanki merk Pertamina masih menyelinap “kencing” BBM di tempat penampungan BBM ilegal. Kenapa bisa terjadi seperti itu, lalu sejauhmana pengawasan pihak PT Elnusa Petrofin Dumai, ”kritik S.Simajuntak kepada kompasriau.com.

Selain jenis minyak solar dan premium, mafia BBM ilegal juga diduga menampung BBM jenis Avtur, Biodesel, minyak hitam dan petronas. Diduga minyak-minyak ini diolah mafia dioplos dan kemudian dijual kepasaran. Soalnya pemakai minyak hitam hanya pabrik kertas PT Indah Kiat di Perawang, sementara minyak jenis Avtur adalah kebutuhan pesawat terbang, seperti halnya tempat penampungan BBM ilegal yang berada di Bukit Kapur yang disebut-sebut dikelola Anto.

“Ada indikasi bahwa BBM yang “dikencing” para oknum sopir “nakal” mobil tangki merk Pertamina di lokasi tempat penampungan BBM ilegal itu diduga melebihi muatan dari kapasitas delivery order (DO),”ungkap S.Simajuntak.

Hal tersebut diperkuat dengan pengamatan tim kompasriau.com dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),Kamis (26/5/2016) di kawasan Kecamatan Bukit Kapur,bahwa aktivitas mafia BBM semakin marak beroperasi hanya menampung BBM secara ilegal dari puluhan unit mobil tanki pengangkut BBM yang datang dari PT Pertamina (Persero) terminal pengisian BBM Dumai.

Ironisnya, aktivitas para mafia BBM tersebut diduga negara dirugikan miliaran, karena aktivitas penampungan BBM tersebut tidak pernah ada kontribusi ataupun pajak kepada Pemerintah. Pasalnya, usaha tempat penampungan BBM dan CPO tersebut tidak pernah memiliki izin usaha dari Pemerintah. Kuat dugaan oknum mafia BBM menjual BBM ilegal kepada perusahaan industri dengan memakai delivery order “aspal”.

Seperti aktivitas yang disebut-sebut dikelola anggota Ginting di kawasan Kecamatan Bukit Kapur. Usaha penampungan sekaligus penimbunan BBM ilegal itu disebut-sebut beromset ratusan juta rupiah, karena puluhan unit mobil tanki Merk Pertamina diduga wajib menyelinap “kencing” BBM di lokasi tempat penampungan BBM ilegal itu.

Begitu juga aktivitas yang disebut-sebut dikelola Martias yang berada di jalan Soekarno Hatta, tepatnya di depan pemakaman marga sarana Bagan Besar. Usaha aktivitas mafia BBM tersebut sengaja ditutup dengan pagar seng agar tidak kelihatan mobil tangki Merk Pertamina diduga sedang melakukan aksi penjualan BBM secara ilegal di dalam lokasi tersebut.

Begitu juga aktivitas tempat penampungan CPO di kawasan Kecamatan Dumai Selatan tepatnya di Km 7, meski dugaan rangkaian pelanggaran hukum itu telah berulang kali dipublikan media massa kepada oknum petinggi aparat penegak hukum di Riau, namun “bisnis haram” tersebut bebas melakukan aktivitasnya setiap hari hanya menampung CPO secara ilegal dari puluhan unit mobil truck tanki pengangkut CPO yang datang dari berbagai Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Usaha penampungan CPO ilegal tersebut dikelola marga Manurung.

Selain itu, lokasi tempat penampungan CPO ilegal yang berada di jalan raya lintas Duri XIII menuju Pekanbaru, tepatnya di Kulim Km 9 wilayah hukum Polres Bengkalis. Dikatakan sumber, tempat penampungan CPO ilegal tersebut setiap hari beromset ratusan juta rupiah, karena pemodal usaha itu disebut-sebut bernama Acai.

Pengamatan tim kompasriau.com di lokasi, puluhan unit mobil tanki pengangkut CPO menyelinap “kencing” CPO di lokasi tempat penampungan CPO tersebut, kemudian mobil tanki tersebut melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Dumai untuk pengapalan.

Maraknya aktivitas para mafia CPO di wilayah hukum jajaran Polda Riau diduga merugikan Perusahaan CPO BUMN, yaitu PTP III dan PTP V dan perusahaan PT SAN yang berada di Pelabuhan Dumai dan sejumlah Perusahaan CPO  lainnya yang beroperasi di Pelabuhan Dumai, karena setiap hari siang dan malam diduga puluhan unit mobil truck pengangkut CPO milik perusahaan BUMN wajib menyelip “kencing” beberapa drum CPO/unit di lokasi tempat penampungan CPO ilegal tersebut.

Begitu juga, dua lokasi tempat penampungan inti sawit ilegal yang berada di Duri XIII, Desa Kesombo Ampai,Kabupaten Bengkalis. Usaha tempat penampungan inti sawit tersebut disinyalir bebas menadah inti sawit dari oknum supir “nakal” puluhan unit mobil truck pengangkut inti sawit yang datang dari berbagai daerah.

Lain halnya menurut warga bernama Jeston, bahwa dugaan pelangaran hukum masih merajalela seperti aktivitas dugaan penadah CPO ilegal dari oknum ABK kapal tanker oleh oknum pemilik kapal kayu di perairan laut Dumai. konon jaringan mafia menadah CPO dari para oknum ABK kapal tanker puluhan ton, kemudian CPO diangkut ke sungai Dumai atau ke Sungai mesjid, selanjutnya dijual kepada para mafia CPO di daerah Kulim dan Dumai.

Selain itu, dugaan pelanggaran hukum, yaitu aktor mafia bawang merah eks impor menjadi sorotan masyarakat dan awak media di Kota Dumai. Pasalnya, oknum aparat pengak hukum di Riau terkesan tidak profesional dalam menangani kasus ribuan ton bawang merah eks impor hasil tangkapan petugas yang sedang berlayar dari Malasysia dengan tujuan perairan Laut Dumai dan Kabupaten Bengkalis.

DSCN1176
Dua unit mobil tanki Merk Pertamina sedang keluar masuk ke lokasi Mafia BBM ilegal di Bagan Besar Dumai, yang disebut-sebut dikelola anggota Ginting

“Saya heran melihat kinerja oknum aparat penegak hukum di Riau. Masak sudah berulang kali petugas melakukan penangkapan terhadap ribuan ton bawang merah eks impor, tetapi tidak pernah terungkap siapa nama aktor atau mafia bawang merah ilegal tersebut. Karena setiap perkara bawang tersebut diperiksa di Pengadilan Negeri Dumai,  selalu nahkoda dan awak kapal yang dijadikan terdakwa diperiksa majelis hakim. Sementara petugas dari Kepolisian, TNI dan Bea Cukai bersenjata lengkap melakukan pengawasan di laut,namun kenyataannya, aktor atau mafia bawang merah eks impor belum bisa tertangkap dan diadili di Pengadilan,”ungkap Jeston kepada kompasriau,Kamis (26/5/2016). (J. Manalu).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here