Bupati Bengkalis Diminta Menindak Pelaku Dugaan Transaksi Ilegal Di RSUD Duri

0
14

IMG-20170513-WA0001Bengkalis-Duri,kompasriau-Bupati Bengkalis, Amril Mukminin diminta melakukan tindakan hukum terhadap oknum petugas labor pembuat kwitansi di luar kasir dugaan  transaksi ilegal di dalam  Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Duri, Kabupaten Bengkalis.

“Kuat dugaan terjadi transaksi ilegal penjualan darah 3 kantong dengan harga Rp. 960.000,- di RSUD Duri. Kwitansi itu diberikan kepada pasien diduga tidak sesuai dengan standar operasional prosedur dan pola tarif di RSUD. Untuk itu kita minta kepada Bupati Bengkalis untuk melakukan tindakan hukum kepada oknum petugas labor RSUD yang membuat kwitansi itu,”tegas praktisi hukum di Duri, A.Sitompul kepada awak media ini, Selasa (16/5/2017).

Dalam WhatsApp Kompas Riau disebut 3 kwitansi di luar kasir dugaan transaksi ilegal di dalam Rumah Sakit Umum Daerah Duri. Kwitansi tersebut diberikan kepada pasien berinisial N.M, diduga tidak sesuai dengan SOP dan harganya Rp.320.000,perkantong.

Kuat dugaan sering terjadi transaksi ilegal di RSUD Duri, karena 3 kwitansi yang diberikan petugas labor RSUD Duri itu kepada keluarga pasien tidak memakai stempel dan kwitansi RSUD Duri.

Ketika hal tersebut dikonfirmasi kepada Kepala Labor RSUD Duri, Ismani, membenarkan adanya  3 kwitansi yang dikeluarkan petugas labor RSUD Duri tanpa stempel dan kwitansi RSUD Duri.

Namun menurut Ismani, biaya sebesar Rp. 960.000, (sembilan ratus enam puluh ribu) yang tertera di dalam 3 kwitansi tersebut dipakai untuk biaya pencarian darah dan biaya pemeriksaan siap pakai darah.

Ketika ditanya kenapa ada 3 kwitansi diberikan kepada pasien tanpa adanya stempel dan kwitansi resmi dari RSUD Duri.? Dijawab Ismani, “Benar kwitansi itu bukan kwitansi RSUD Duri. Mungkin itulah kelalaian saya. Nanti kedepannya akan kita perbaiki,”ujar Ismani.

Dijelaskan Ismani, setiap ada pasien yang membutuhkan darah bisa mengambil darah di RSUD Duri, tetapi harus diganti BHP (barang habis pakai).

“Karena bukan semua darah langsung bisa pakai pasien, tetapi dalam pemeriksaan semua darah banyak prosesnya, karena setiap darah yang masuk ke RSUD Duri harus kita periksa dulu. Jadi kita tidak ada jual darah,”tegas Ismani via telepon genggamnya kepada awak media ini baru-baru ini.

Kronologis

Bahwa pada tanggal 10 Mei 2017 sekira pukul 07.00 Wib, pasien N.M yang didampingi suaminya datang ke salah satu praktek bidan di Jalan Desa Harapan Duri.  Setibanya pasien N.M di rumah salah seorang bidan, selanjutnya pasien N.M diperiksa oleh asisten bidan, karena bidan waktu itu sedang pergi dinas ke Puskesmas Duri.

Keterangan asisten bidan, bahwa praktek bidan itu sudah buka, kemudian pasien N.M disuruh jalan-jalan dan dipasang infus.  Pukul 13.00 Wib ketuban pecah dan pasien N.M disuruh  asisten bidan untuk atur nafas.

Setelah itu suami pasien bertanya kepada asisten bidan, kenapa bidannya belum datang.? Dijawab asisten bidan. “Sekitar jam 16.00 Wib bidan tiba. Kata bidan kita tunggu waktunya sampai pukul 17.00 Wib, kalau tidak lahir kami rujuk ke rumah sakit Permata Hati,”kata asisten bidan kepada keluarga pasien.

Sekira pukul 17.00 Wib, pasien dirujuk ke rumah sakit Permata Hati dengan perjalanan dari rumah bidan ke rumah Sakit Permata Hati paling lama 30 menit. Setibanya pasien N.M di rumah sakit Permata Hati,  suami pasien melihat banyak darah keluar. Sekira pukul 20.00 Wib dokter baru datang dan melakukan tindakan operasi. Operasi berlangsung lumayan lama waktunya. Kemudian bayi lahir dengan berat badan 3,8 Kg.

Dengan konsisi kata dokter bahwa kesehatan bayi kurang sehat. Tangisnya tidak lepas. Mungkin  sudah terminum air ketuban, bahkan terminum darah. Penyebabnya karena  bidan lama merujuk pasien N.M ke rumah sakit Permata Hati. Kondisi pasien N.M dirawat di ruang ICU ( intensive care Unit ) di rumah sakit Permata Hati. Karena pasien banyak kehabisan darah, maka keluarga pasien disuruh untuk mencari đarah. Kemudian  sekitar pukul 01.00 Wib, keluarga pasien mendapat đarah di RSUD Duri dan dibayar langsung transaksi dengan petugas labor dengan menggunakan kwitansi yang bukan kwitansi dari RSUD Duri.

Untuk kesembuhan pasien N.M karena banyak kehabisan darah, akhirnya pasien menghabiskan darah 3 kantong dibeli dari RSUD Duri seharga Rp. 320.000 perkantong, dan 1 kantong didapat dari pendonor yang datang ke RSUD Duri untuk diambil darahnya.

Bahwa pada hari Jumat, 12 Mei 2017, pukul 20.00 Wib,  awak media ini menerima telepon dari orang tua kandung pasien N.M, mengatakan bahwa pasien N.M pendarahan di rumah sakit Permata Hati, namun petugas rumah sakit seakan tidak mendahulukan kepentingan pasien.

Sejauh ini, oknum bidan, belum berhasil dikonfirmasi awak media ini, guna konfirmasi terkait dugaan keterlambatan merujuk pasien N.M ke rumah sakit Permata Hati.***(Red).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here