IPAL Rumah Sakit Regita Medika Dan RS Cahaya Ujung Tanjung Dipertanyakan

0
40

Rohil-Riau,kompasriau-Menjadi perbincangan sejumlah awak media terkait pengelolaan limbah yang dihasilkan dari limbah Rumah Sakit Cahaya Ujung Tanjung dan Rumah Sakit Regita Medika, yang terletak di jalan lintas Riau Ujung Tanjung, Kecamatan Tanah Putih, Rokan Hilir, diduga tidak melakukan tahapan sistem, proses dahulu dengan instalasi pengelolaan air limbah rumah sakit (IPAL) sebelum dibuang kesaluran.

Karena ketika hal tersebut dikonfirmasi awak media ini kepada pemilik rumah sakit Cahaya Ujung Tanjung dan Rumah Sakit Regita Medika, namun hingga berita ini dimuat, pemilik Rumah Sakit tersebut masih memilih bungkam.

Bahkan awak media ini kembali upayakan konfirmasi via telepon RS Cahaya nomor: 0812668183…., Kamis (1/6/2017), namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari pihak rumah sakit Cahaya, sehingga kuat dugaan rumah sakit Cahaya Ujung Tanjung tidak melakukan tahapan sistem, proses dahulu dengan instalasi pengelolaan air limbah rumah sakit sebelum dibuang kesaluran.

“Pihak rumah sakit Cahaya dan rumah sakit Regita Medika kita harapkan memberi ruang serta akses lebih terbuka kepada pers untuk mengakses informasi bagi kebutuhan publik, guna mewujudkan prinsip transparansi sebagaimana amanat Undang-Undang pers nomor: 40 tahun 1999, tetapi ketika kita upayakan konfirmasi terkait proses pengelolaan air limbah di Rumah sakit Cahaya itu kepada pemiliknya, namun sampai saat ini belum ada penjelasan dari pihak rumah sakit itu,”ujar Salah seorang anggota PWI Cabang Dumai, Salamuddin Purba kepada awak media ini, Kamis (1/6/2017).

Menurut Salamuddin, pihaknya telah mempertanyakan soal menyediakan kolam penampungan untuk menyaring limbah cair rumah sakit Regita Medika dan rumah sakit Cahaya Ujung Tanjung tersebut,apakah sudah sesuai dengan aturan yang ditetapkan untuk IPAL sebuah rumah sakit.? Karena untuk menangani air limbah rumah sakit diwajibkan oleh pemerintah menyediakan fasilitas IPAL sebelum air limbahnya dibuang kesaluran. Oleh sebab itu, perlu dirancang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mampu mereduksi, menurunkan kadar pencemar ke taraf baku mutunya sehingga menjamin kelestarian fungsi ekosistem.

Lebih lanjut Salamuddin menjelaskan, bahwa IPAL adalah sistem pengolah yang mampu menurunkan kandungan pencemar air limbah yang berpotensi mencemari lingkungan sampai batas yang disyaratkan pemerintah. Tujuannya, mengurangi dampak buruk polutan di dalam air limbah dan mengendalikan pencemaran lingkungan.

Upaya pembuatan IPAL ini mengacu pada Undang-Undang Nomor: 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air, pasal 17: Setiap orang atau badan yang membuang limbah cair wajib menaati baku mutu limbah cair sebagaimana ditentukan dalam izin pembuangan limbah cair yang ditetapkan baginya.

Peraturan lain yang berkaitan dengan pengelolaan air limbah rumah sakit seperti diatur di dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 23/1992 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan No.173/Menkes/Per/VIII/1997, tentang Pengawasan Pencemaran Air dari Badan Air untuk Berbagai Kegunaan yang Berhubungan dengan Kesehatan, Keputusan Direktur Jenderal PPM dan PLP No. HK.00.06.6.44 tentang Persyaratan & Petunjuk Teknis Tatacara Penyehatan Lingkungan.

Undang-undang dan peraturan lainnya yang mewajibkan rumah sakit memiliki IPAL adalah UU No. 44/2009 tentang rumah sakit, Permenkes No. 147 tahun 2010 tentang perizinan rumah sakit dan Kepmenkes No. 1204 tahun 2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit.***(Red)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here