Polda Riau Amankan Lokasi Sengketa Lahan Dalam Kawasan Hutan

Rokan Hilir,KompasrisuSoal lahan perkebunan kelapa sawit, yang disebut-sebut di dalam kawasan hutan di kawasan Kecamatan Tanah Putih, belakangan ini menjadi polemik berkepanjangan antara Winaraya putranya Winarto (Alm) melalui Penasehat Hukum PH, Oegro Seno mantan Wakapolri lawan RL Pangaribuan SH selaku kuasa hukum, Dewi Maya Tanjung, saling mengklaim sebagai pemilik perkebunan sawit dilokasi kawasan hutan tersebut. Para pihak melalui Penasehat hukumnya saling lapor  ke Polda Riau.

Pangaribuan SH, selaku Penasehat hukum, Dewi Maya Tanjung mengkritisi Kapolda Riau, Irjen Pol Zulkarnain terkait puluhan anggota Brimob yang di BKO kan dilokasi kawasan perkebunan kelapa sawit milik Dewi Maya Tanjung.

Menurut RL. Pangaribuan, dalam keterangan Persnya dilokasi lahan yang disengketakan tersebut Rabu (14/06/2017) mengatakan Dewi Maya Tanjung dan keluarganya selaku pemilik lahan tidak pernah menjual lahan tersebut kepada Winarto (alm). Bahkan RL Pangaribuan juga mengatakan bahwa akta jual beli melalui Notaris No. 3 tanggal 21 Januari 2004 tanpa menyebutkan nama notaris terpampang di lokasi perkebunan kelapa sawit yang disengketakan dan  patut diduga direkayasa, karena sejumlah plang tersebut tiba-tiba saja muncul dilokasi dengan mencantumkan KUHP-551.

“Teman-teman wartawan supaya menelusuri akta no.3 tersebut”. Mestinya pemasangan plang nama suatu badan hukum apalagi Notaris harus mencantumkan nama notaris dan alamat notaris yang menerbitkan Akta No.3 tersebut. “Boleh jadi Notaris yang menerbitkan akta tersebut berkantor di Medan, objek perkaranya di Rantau Bais Tanah Putih” apa boleh, “ujar RL.Pangaribuan.

Menurut RL Pangaribuan, kasus sengketa kebun milik kliennya itu telah dilaporkan ke Propam Mabes Polri, karena jauh sebelumnya kasus ini, pihaknya telah melapor ke Polsek Tanah Putih, Polres Rokan Hilir dan Kapolda, terkait pemanenan buah sawit di lokasi Dewi Maya Tanjung yang dilakukan suruhan Winaraya, namun hingga saat ini belum juga ditanggapi.

“Belakangan ini muncul perintah Kapolda Riau mengamankan lokasi, melarang memanen buah sawit. Perintah Kapolda Riau dipelesetkan, karena dalam surat perintah, diperintahkan untuk pengamanan lokasi, bahwa kedua belah pihak yang bersengketa dilarang memanen kelapa sawit. Itu boleh-boleh saja, meski kami tidak setuju dengan perintah Kapolda Riau tersebut melarang para pekerja untuk memanen, buah sawit dilokasi kebun sawit milik Dewi Maya Tanjung,”ucap RL.Pangaribuan.

“Perintah Kapolda melarang memanen, tapi justru pihak lawan kami Winaraya melakukan perusakan rumah karyawan Dewi Maya Tanjung, kenapa dibiarkan oleh petugas Brimob yang di BKO itu. Perusakan rumah tersebut dilakukan didepan mata petugas. Pantauan dilapangan petugas Brimob yang di BKO kan, lengkap dengan senjata laras panjang, petugas yang di BKO kan sejak 1 Juni hingga saat ini masih berjaga sebelumnya ada sekitar 30  orang, belakangan tinggal sekitar 6 orang petugas Brimob selain melarang memanen, juga melarang pekerja untuk membersihkan kebun dan merawat kebun. Saya akan Prapradilankan Kapolda karena perintah tidak sesuai dilapangan, tandas RL.Pangaribuan.

Menurut RL. Pangaribuan, dasar pembukaan lahan perkebunan sawit Dewi Maya Tanjung atas dasar Surat Keterangan Riwayat Pemilikan/Penguasaan Tanah (SKT), yang diregister Kepala Desa Rantau bais dan Camat Tanah Putih, pada tahun 2003 tanggal 11 Februari 2003 atas nama Dewi Maya Tanjung dan keluarga. “Sementara jual beli lahan antara mantan suami Dewi Maya Tanjung kepada Winarto sesuai akta yang dipasang dilokasi tahun 2004. “Jadi mana lebih tua,”terang RL. Pangaribuan.

Sementara itu, Kapolda Riau, Irjen Pol Zulkarnain, ketika dikonfirmasi awak media ini, Rabu (14/06/2017) melalui pesan singkat (SMS), terkait kasus tersebut menyebutkan, kalau masalah jaga kebun tidak mungkin atas perintah Kapolda Riau. Terlalu teknis kalau Kapolda soal orang ribut masalah kebun”.

“Hanya saja saya sedikit tau masalah ini karena pelapor yang memiliki kebun dengan bukti akta jual beli. Saya tidak kenal dengan yang punya, tapi pengacaranya pak Oegro Seno mantan Wakapolri, complain ke Polda Riau, karena sawit mereka di curi oleh suruhan ibu Dewi tidak ditangani oleh Polisi dan saya tanyakan ke yang menangani dari Ditkrimum Polda Riau, ternyata sudah dipanggil tidak pernah datang dan infonya memanen sawit tersebut karena dia merasa sebagai pemilik lahan. Jika dia tidak merasa bersalah semestinya datang ke panggilan Polisi dan jelaskan apa dasar kepemilikannya dan jika memang cukup kuat, silahkan mengajukan ke perdataan melalui PN Rokan Hilir.

Sekali  lagi Polisi ini hanya melayani masyarakat, karena hak-haknya dilanggar orang lain, saya tanyakan ke penyedik apa legal standing pelapor yang pengacaranya pak Oegro Seno dan bukti mereka adalah jual beli yang sah dengan suami ibu Dewi dan selama ini tidak ada masalah.

Masalah ada baru beberapa saat ini setelah bu Dewi berpisah dengan suaminya yang menjual sawit tersebut. Ibu Dewi sudah melaporkan juga ke yang mengaku dari staf ke prfesidenan bapak Supardi dan sudah kami jelaskan dan kami minta tolong agar ibu Dewi dihadapkan ke Polisi supaya bisa diberikan solusi yang baik dan tolong jangan sampai memanen lagi, kecuali dia memiliki bukti sah sebagai pemilik lahan tersebut. Semoga bapak mau memahaminya dan mau membantu menghadapkan ibu Dewi tersebut, dan yang bersangkutan juga dicari oleh Polisi Sumut karena ada DPO dari Polisi Sumut,”terang Irjen Pol Zulkarnain.

Informasi yang dihimpun awak media ini, terkait sengketa lahan antara Winaraya dengan Dewi Maya Tanjung, menyebut lahan yang disengketakan sekitar  250 hektar atas nama Winarto (alm), sekitar 100 hektar dan yang dikuasai oleh Dewi Maya Tanjung sekitar 150 hektar  secara keseluruhan telah ditanami kelapa sawit sejak tahun 2003 silam.

Lahan yang disengketakan itu disebut-sebut di dalam kawasan hutan Desa Rantau Bais dan dijadikan perkebunan kelapa sawit dan kawasan tersebut merupakan kawasan hutan yang konon dikuasai oleh Abi Besok salah seorang pengusaha kayu asal dari Tanjung Balai Asahan-Sumut suami Dewi Maya Tanjung.***(S.Purba).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *