Barang-Barang Milik Karyawan KAK Korban PHK “Dirampas Dan Dibuang”

IMG-20170622-WA0012Kandis,kompasriau-Tindakan pihak Koperasi Air Kehidupan (KAK) bersama sekelompok “preman” untuk pengosongan rumah karyawan korban PHK sepihak tanpa penetapan PHI, tak berprikemanusiaan. Barang-barang berharga seperti ijazah, emas,  alat-alat sekolah anak-anak karyawan, pakaian dan peralatan  alat rumah tangga diduga dirampas dari dalam rumah karyawan dan dibuang begitu saja di Km 1 Jalan Libo Jaya-Waduk, Kecamatan Kandis, pada tanggal 2 Juni 2017.

IMG-20170619-WA000341 orang karyawan perkebunan koperasi air kehidupan di PHK tanpa penetapan PHI dan tidak mendapat pesangon dari manajemen koperasi air kehidupan, kemudian dilakukan tindakan pengosongan rumah para karyawan secara paksa oleh sekelompok “preman” dihadapan anak-anak karyawan yang masih dibawah umur, yang disaksikan oknum anggota TNI dan oknum anggota Kepolisian.

IMG-20170619-WA0006Aparat penegak hukum yang melihat  kejadian itu di tempat kejadian seakan berpihak kepada pihak pengusaha perkebunan koperasi air kehidupan yang telah melakukan tindakan pengosongan terhadap rumah karyawannya secara paksa.

Demikian diungkapkan sejumlah karyawan korban PHK kepada tim awak media ini, Jumat (23/6/2017) di Desa Sam-Sam, Kecamatan Kandis.

KARYAWAN KAK
Karyawan korban PHK sepihak

 “Pihak koperasi air kehidupan melakukan mengosongkan rumah kami, dan saya lihat di halaman rumah ada preman itu yang memegang pisau dan parang. Tindakan mereka tidak berprikemanusiaan, tega mengangkat barang-barang kami secara paksa dari dalam rumah, dan sampai saat ini, anak-anak kami masih trauma akibat tindakan mereka membawa barang kami dan dibuang di libo Jaya, ”ungkap R. Silalahi dan beberapa orang karyawan korban PHK.

KAK 1
Diduga korban pelecehan

Ketika ditanya, dari mana anda tahu bahwa yang melakukan pengosongan rumah karyawan itu sekelompok preman.? Dikatakan R.Silalahi, selama ini berjumlah sekitar 50 orang yang ikut membantu pengosongan rumah tersebut tidak pernah bekerja di perkebunan koperasi air kehidupan.

“Sekelompok preman itu kami duga disuruh pihak koperasi air kehidupan untuk melakukan mengeluarkan barang-barang kami secara paksa dari dalam rumah, dan banyak yang tidak kami kenal orang-orang preman itu, karena kami tidak pernah lihat orang-orang itu bekerja di perkebunan koperasi air kehidupan ini,”terang R.Silalahi dan kawan-kawannya.

IMG-20170619-WA0008Menurut R.Silalahi, pihaknya  sudah melaporkan perampasan dan pengrusakan barang-barang dan dugaan pelecehan seksual tersebut kepada aparat penegak hukum. Laporan disampaikan ke Polsek Kandis sesuai surat tanda penerimaan laporan No.Pol: STPL/145/VI/2017/Riau/Res Siak/Sektor Kandis, namun hingga saat ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

IMG-20170619-WA0009Lanjutnya, pada tanggal 12 Juni 2017, tim dari Intelkam Polda Riau sudah turun ke daerah Kandis terkait dugaan pengosongan rumah karyawan secara paksa tersebut, namun tim dari Polda tersebut tidak turun langsung untuk melihat kondisi para korban trauma anak-anak di perkebunan KAK itu.

IMG-20170608-WA0013
Karyawan bernama Sakiman melapor ke Polsek Kandis

“Tim dari intelkam Polda Riau itu tidak turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi ibu-ibu dan anak-anak kami yang masih trauma, mereka hanya ketemu di kedai kopi dengan ketua kami dan 2 orang  anggota SPPI,”ujar R.Silalahi.

Kapolda Riau, Irjen Pol Zulkarnain, ketika dikonfimasi awak media ini via pesan singkat (SMS), terkait turunnya tim dari intelkam Polda Riau tersebut, namun sampai saat ini belum ada tanggapannya.

IMG-20170622-WA0007Begitu juga, pimpinan Koperasi Air Kehidupan, Dian Anggara Situmorang dan Senior Manager Koperasi Air kehidupan, Ir Harianto Siburian, kendati sudah berulang kali dikonfirmasi awak media ini soal pengosongan karyawan korban PHK tersebut, namun hingga saat ini belum ada tanggapannya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Perjuangan Indonesia (DPP-SPPI), Indra Gunawan mengaku sangat prihatin atas musibah yang dialami karyawan Koperasi Air Kehidupan korban PHK sepihak dan dugaan korban “kekerasan, pelecehan seksual,  dan premanisme “ pada saat pengosongan rumah dinas karyawan KAK korban PHK sepihak, pada tanggal 2 Juni 2017.

“Seluruh barang-barang rumah tangga, baju anak sekolah  dan barang-barang berharga emas dirampas oleh sekelompok preman diduga suruhan oknum pihak perusahaan koperasi air kehidupan,”ungkap Indra.

Menurutnya , berjumlah 5 orang anak-anak karyawan korban PHK itu trauma akibat pengosongan rumah karyawan secara paksa oleh sekelompok preman yang diduga sengaja didatangkan oleh pihak koperasi air kehidupan untuk mengeluarkan barang-barang dan  alat-alat sekolah anak-anak karyawan.

“Kami dari keluarga besar DPP serikat pekerja perjuangan terus memberi bantuan kepada keluarga korban PHK ini, karena kita sangat prihatin melihat kondisi anak-anak yang masih dibawah umur ini, karena barang-barang mereka dibuang begitu saja di daerah Libo Jaya,”ucap Indra.

Dijelaskan Indra, bahwa pengurus SPPI telah membuat surat keberatan atas mutasi dan panggilan kerja permasalahan sepihak serta demosi yang dilakukan oleh pihak manajemen koperasi air kehidupan terhadap beberapa pengurus dan anggota PUK SPPI K.A.K.

“Berdasarkan pasal 6 undang-undang nomor 13 tahun 2003, bahwa setiap pekerja berhak mendapat perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Tetapi tindakan mutasi sekaligus demosi yang dilakukan oleh pihak manajemen KAK, disinyalir tindakan anti serikat bentuk daripada menghalang-halangi kebebasan berserikat serta upaya “pemberangusan SPPI dari perkebunan K.A.K secara sistematis, masif dan bersetruktur,’”tegas Indra.

Bahkan menurut Indra, sejak berdirinya PUK SPPI K.A.K hanya anggota dan pengurus SPPI yang selalu terkena alasan mutasi, sementara karyawan/pekerja K.A.K lainnya yang bukan anggota SPPI tidak pernah terkena imbas mutasi.

“Kami lihat disinyalir sebagai alasan untuk membungkam sekaligus memberantas SPPI di lingkungan koperasi air kehidupan di Desa Sam-Sam,”ungkap Indra.

Selain itu, karyawan korban PHK bernama Jakiman mengaku bahwa selama ini upah minimum sektor pertanian (UMSP) yang dibayar pihak manajemen koperasi air kehidupan kepada karyawannya hanya sebesar 1.300.000,- setiap bulannya.

“Saya sudah 20 tahun bekerja di koperasi air kehidupan, tetapi saya bekerja sebagai mandor di koperasi air kehidupan hanya menerima upah minimum sebesar Rp. 1.300.000,-.,”keluh Jakiman.

Menurut Sakiman, tindakan mutasi sepihak yang dilakukan oleh pihak manajemen koperasi air kehidupan terhadap sejumlah karyawannya disinyalir bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan mutasi dilakukan merugikan hak-hak yang sebelumnya.

Ketika ditanya, apakah karyawan koperasi air kehidupan sudah mengikuti program BPJS Kesehatan.? Dikatakan Jakiman, berdasarkan data-data dari BPJS kesehatan hanya berjumlah 250 orang pekerja koperasi air kehidupan yang mengikuti program BPJS kesehatan.

“Dari 700 orang karyawan perkebunan koperasi air kehidupan, tetapi hanya berjumlah 250 orang karyawan yang terdaftar sesuai data di kantor BPJS kesehatan,”ujar Jakiman.***(Kriston).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *