Lamhot Sitohang Diduga Melakukan Pelecehan Terhadap Seorang IRT

0
132

IMG-20170716-WA0004Pekanbaru,kompasriau-Tindakan keamanan kebun Koperasi Air Kehidupan (KAK),Lamhot Sitohang dan Mangara Tua Samosir bersama sekelompok “preman” untuk melakukan pengosongan rumah karyawan korban PHK sepihak tanpa penetapan PHI, tak berprikemanusiaan.

Ratusan anggota Serikat Pekerja Perjuangan Indonesia (SPPI) menyatakan sangat prihatin atas musibah yang dialami karyawan KAK korban PHK sepihak dan korban dugaan “kekerasan, pelecehan seksual dimuka umum  dan premanisme “pada saat pengosongan rumah dinas karyawan dilingkungan Koperasi Air Kehidupan di Desa Sam-Sam, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, pada tanggal 2 Juni 2017.

KARYAWAN KAKMenurut Ramauli Silalahi, barang-barang berharga seperti ijazah, emas,  alat-alat sekolah anak-anak, pakaian dan peralatan  alat rumah tangga dirampas dari dalam rumah karyawan dan dibuang begitu saja di Waduk Km 1 Jalan Libo Jaya, Kecamatan Kandis.

“Pengosongan  terhadap 4 rumah karyawan dilakukan secara paksa dihadapan anak-anak karyawan yang masih dibawah umur,”ungkap Ramauli Silalahi kepada awak media ini.

IMG-20170605-WA0001Tindakan pelecehan yang diduga dilakukan oleh keamanan perkebunan, Lamhot Sitohang terhadap salah seorang IRT disaksikan oleh puluhan karyawan Koperasi Air Kehidupan.

“Mangara Tua Samosir dan Lamhot Sitohang tiba-KAKtiba datang mengetuk rumah saya, kemudian setelah saya buka pintu rumah, tiba-tiba Lamhot Sitohang dan Mangaratua Samosir mendorong saya dan kami sempat dorong-mendorong, tapi saya tidak kuat mencegah Lamhot Sitohang masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang-barang kami, karena Lamhot Sitohang menarik baju saya sampai robek. Saya minta tolong menjerit-jerit, tapi tidak ada orang yang mau menolong saya,”ungkap salah seorang IRT kepada awak media ini,Minggu (16/7/2017).

Menurut suaminya Jakiman Situmorang, seluruh barang-barang dan satu unit sepeda motor dibawa keluar dari dalam rumah karyawan korban PHK. Setelah itu, sekelompok “preman” menuju rumah karyawan bernama Ramauli Silalahi untuk mengosongkan rumah karyawan dan membawa barang-barangnya keluar dari perkebunan Koperasi Air Kehidupan.

Begitu juga rumah karyawan bernama Candra Hutabarat dan Mangedar Malango dilakukan pengosongan rumah yang disebut-sebut dipimpin langsung oleh Mangaratua Samosir. Tindakan pengosongan rumah karyawan tersebut disaksikan 2 (dua) orang anggota POM dan anggota satuan Brimob.

Dikeluhkan mereka, berjumlah 41 orang karyawan koperasi air kehidupan korban PHK tanpa penetapan dari PHI dan tidak mendapat pesangon dari pihak KAK, padahal mereka sudah karyawan tetap selama 5 tahun lebih di Koperasi Air Kehidupan.

Pada tanggal 8 Juni 2017, Jakiman Situmorang dan kawan-kawannya melaporkan pengosongan rumah, perampasan barang,  dan dugaan pelecehan seksual tersebut ke Polsek Kandis sesuai surat tanda penerimaan laporan No.Pol:STPL/145/VI/2017/Riau/Res Siak/Sektor Kandis.

Kendati tim awak media ini telah upayakan berulang kali konfirmasi kepada Lamhot Sitohang dan Mangaratua Samosir via telepon genggamnya, soal dugaan pelecehan tersebut, namun hingga berita ini dimuat belum ada tanggapannya.

Begitu juga pimpinan perkebunan Koperasi Air Kehidupan, Dian C Anggara Situmorang dan juga senior Manager, Ir Harianto Siburian masih memilih bungkam soal perizinan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Mutiara Samsam Kandis dan perizinan perkebunan KAK seluas 4500 tersebut.***(I.G).

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here