Cerita Helen Nora Terdakwa Kasus Penipuan Penerimaan CPNS

Dumai, kompasriu-Suhartaty alis Cici dan Helen Nora, merupakan terdakwa kasus penipuan berkedok penerimaan CPNS di lingkungan Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Terdakwa Suhartaty alias Cici dalam perkara ini terungkap sebagai pelaku utama karena tugasnya seolah sebagai penghubung dan mengurus di kantor pusat Kementerian Perhubungan Jakarta dan seolah ada penerimaan CPNS melalui jalan tol alias jalur khusus.

Sedangkan terdakwa Helen Nora, tugasnya adalah merekrut para pelamar CPNS dimaksud  dan menyerahkan segala administrasi atau persyaratan termasuk uang pengurusan.

Selain direkrut Suhartaty sendiri, setidaknya ada sekitar 60 orang yang menjadi korban kasus penipuan berkedok penerimaan CPNS Perhubungan Laut itu langsung direkrut atau melalui Helen Nora, akan tetapi kemudian segala persyaratan melamar maupun uang pengurusan yang diterima Helen Nora diserahkan Nora kepada Suhartaty.

Melihat sekilas duduk perkara kasus penipuan penerimaan CPNS ini, para korban serta uang pengurusan yang jumlahnya cukup siknifikan sekitar Rp 8 miliar lebih dari para korban, hampir semunya lewat terdakwa Helen Nora.

Namun perlu diketahui sebagaimana fakta terungkap di persidangan, bahwa awalnya Helen Nora merekrut sejumlah pelamar dimaksud tidak lain karena tergiur dari “akal bulus dan tipu muslihat” yang dilakoni oleh Suhartaty alias Cici mengelabui korbannya termasuk Helen Nora sendiri.

Modus bohong-bohongan atau tipu-tipu yang diperankan Suhartaty kepada para pelamar termasuk terdakwa Helen Nora tampak cukup lihai dan professional.

Singkat cerita, mengetahui ada kabar kalau Suhartaty alias Cici bisa mengurus dan memasukkan CPNS di lingkungan perhungan laut untuk ditempatkan di kesyahbandaran atau KSOP, Helen Nora pun awalnya menyodorkan anaknya kepada Cici untuk diurus masuk CPNS dimaksud.

Helen Nora mempersiapkan segala persyaratan mulai dari pho copy KTP, kartu keluarga dan persyaratan lainnya termasuk sejumlah uang pengurusan anaknya diserahkan Helen Nora kepada Suhartaty.

Selain 3 (tiga orang) anak kandung Helen Nora melamar CPNS tersebut, setidaknya ada sekitar 12 anak-anak saudara Helen Nora turut membuat lamaran CPNS yang diurus oleh Suhartaty.

Dalam benak Helen Nora, utamakan dulu masuk PNS dari lingkungan keluarga sendiri kemudian menyodorkan atau baru mengurus orang lain, sebagaimana diakui anak Helen Nora kepada awak media ini.

Berjalan waktu, anak Helen Nora dan yang lainnya berjumlah 15 orang diterima alias mendapat Surat Keputusan (SK) pengangkatan menjadi CPNS dilingkungan perhubungan laut ditanda tangani oleh pejabat dikementerian perhubungan di Jakarta.

Dengan turunnya SK atau diterimanya anak Helen Nora sebagai CPNS di perhubungan laut membuat hati keluarga termasuk Helen Nora cukup gembira dan bersyukur.

Lebih meyakinkan Helen Nora maupun keluarganya soal diterimanya anak Helen Nora, anak Helen Nora termasuk 15 orng lain yang menerima SK, Suhartaty menyuruh mereka untuk menjahitkan baju dinas kesyahbandaran disalah satu tukang jahit yang ditunjuk Suhartaty di Kota Dumai.

Tidak itu saja, gaji rappel selama 6 bulan terhitung SK diterbitkan dan diserahkan kepada 15 orang pelamar tahap pertama telah menerima sehingga keyakinan Nora atas pengurusan yang dilakukan Suhartaty seolah benar adanya.

Berangkat dari hal inilah kabar penerimaan CPNS lewat jalur khusus yang diurus Suhartaty berhembus berantai dilingkungan keluarga maupun orang lain.

Maka setidaknya sekitar 60 orang dalam waktu yang tidak bersamaan dan tahun yang berbeda, datang berbondong-bondong membuat lamaran lewat Helen Nora.

Akan tetapi, sebelum menerima persyaratan lamaran dari para korban dimaksud, Helen Nora terlebih dahulu koordinasi dan bertanya kepada Suhartaty apakah bisa mengurus yang lainnya dan Suhartaty menyanggupinya dengan perjanjian apa bila tidak masuk PNS, uang pengurusan akan dikembalikan.

Kepada Helen Nora, Suhartaty membuat golongan biaya pengurusan yang harus diminta Helen Nora dari setiap pelamar bervariasi. Tingkat SMA Rp 75 ribu, D3 Rp 80 ribu dan S1 Rp 85 ribu, bahkan biaya pengurusan perorang ada yang hingga Rp 200 ribu.

Dari para pelamar (korban-red) berjumlah lebih 60 orang ini mengurus persyaratan masing-masing sebagaimana disuruh Suhartaty termasuk nego soal jumlah uang pengurusan.

Pendek cerita berjalan bulan dan berganti tahun, para mereka yang melamar dan sudah menyerahkan uang pengurusan kepada Nora, tidak kunjung ada panggilan dan tidak diterima, karena apa yang diurus Suhartay alias Cici bisa memasukkan pegawai dilingkungan perhubungan atau di kantor syahbandar adalah bohong-bohongan belaka.

Akibat kecurigaan para korban kalau penerimaan CPNS dimaksud adalah penipuan, maka sejumlah korban membuat laporan ke polres Dumai dengan tuduhan penipuan dan sangkaan penggelapan.

Atas peristiwa ini, Helen Nora kemudian menyadari kalau dirinya turut korban tipuan Suhartaty yang bulat-bulat “dikibuli alias dibohongi” oleh Suhartaty, namun apa dikata “nasi  sudah menjadi bubur” karena uang pengurusan yang diterima oleh Helen Nora dari para korban sudah diserahkan Helen Nora kepada Suhartaty, sebagaimana pengakuan Helen Nora di ruang sidang Pengadilan Negeri Dumai. ***(Tambunan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *