Oknum TNI Diduga Terlibat Dalam Aksi Pengosongan Rumah Tanpa Penetapan PHI

IMG-20170619-WA0009Siak,kompasriau-Kebobrokan oknum aparat penegak hukum dan oknum pemilik perkebunan Koperasi Air Kehidupan (KOP-OK) mulai terkuak. Mulai terkuaknya kebobrokan oknum pemilik KOP-AK, diperkuat dengan keterangan salah seorang anggota DPRD Siak Komisi II,Mhd Ariadi Tarigan mengatakan, bahwa lahan perkebunan kelapa sawit Koperasi Air Kehidupan dan Aek Natio Group seluas 4500 hektar berada di dalam kawasan hutan.

KARYAWAN KAKBahkan ratusan anggota Serikat Pekerja Perjuangan Indonesia (SPPI) di Desa Sam-Sam mempertanyakan keberadaan  2 (dua) anggota Polisi Militer TNI AD di perkebunan KOP-AK dan di PT Dian Anggara Persada PKS Mutiara Samsam Kandis tersebut. Pasalnya, perkebunan koperasi air kehidupan dan PKS Mutiasa Samsan beroperasi secara ilegal di dalam kawasan hutan sesuai keterangan salah seorang anggota DPRD Siak komisi II, Mhd Ariadi kepada awak media ini baru-baru ini.

 “Kami dari pengurus SPPI mempertanyakan keberadaan ke 2 oknum TNI yang ikut memegang tangan karyawan korban PHK sepihak saat sekelompok “preman” IMG-20170705-WA0002melakukan pengosongan terhadap rumah karyawan tanpa penetapan pengadilan hubungan industrial. Tangan anggota kita korban PHK dipegang 2 orang anggota TNI, sementara oknum “preman” dibiarkan bebas melakukan aksinya melakukan pengosongan rumah itu. Kok bisa ikut-ikutan dua anggota POM itu membantu pihak koperasi untuk mengosongkan rumah dinas karyawan itu tanpa penetapan pengadilan hubungan industrial,”ungkap Ketua Serikat Pekerja Perjuangan Indonesia (SPPI), Thamrin Hutabarat kepada awak media ini.

Ketika ditanya siapa nama kedua anggota polisi militer tersebut.? Dijawab Thamrin,”Kalau tak salah, anggota polisi militer itu bernama Salam Siagian dan bernama Rinaldi. Inikan masih ada fotonya berpakaian dinas lengkap ke dua angota TNI itu saat memegang tangan anggota kita di TKP, tetapi sekelompok preman bebas melakukan aksi untuk mengosongkan rumah dinas anggota kita,”ujar Thamrin dengan nada kecewa.

Terkait hal tersebut, Komandan Denpom 1/3 Pekanbaru melalui Pasi Lidkrim Denpom Pekanbaru Kapten CPM, Hariadi, ketika dikonfirmasi via telepon genggam, Sabtu (29/7/2017) mengatakan,”Coba saya cek dulu mas yang bersangkutan, kalau tidak salah sudah pensiun , tapi saya cek dulu mas,”pesan Hariadi kepada awak media ini.

Awak media ini menjelaskan kepada Kapten CPM Hariadi, bahwa ke 2 anggota polisi militer tersebut berpakaian lengkap (Dinas TNI) di koperasi air kehidupan (TKP). Kemudian Kapten CPM Hariadi menyarankan,”Bisa kirim fotonya ke WA saya mas. Siapa namanya satu lagi,”tanya Hariadi kepada awak media ini.

Seperti dikabarkan media ini sebelumnya, bahwa pihak koperasi air kehidupan diduga bersama sekelompok “preman” melakukan tindakan secara paksa mengosongkan rumah karyawan korban PHK sepihak tanpa penetapan pengadilan hubungan industrial, pada tanggal 2 Juni 2017.

Seluruh barang-barang dan satu unit sepeda motor dibawa keluar dari dalam rumah tersebut. Setelah itu, sekelompok “preman” menuju rumah karyawan bernama Ramauli Silalahi untuk mengosongkan rumah karyawan dan membawa barang-barangnya keluar dari perkebunan Koperasi Air Kehidupan.

Begitu juga rumah karyawan bernama Jakiman Situmorang dan Candra Hutabarat diduga melakukan pengosongan rumah yang disebut-sebut dipimpin langsung oleh M.Samosir. Tindakan pengosongan rumah karyawan tersebut disaksikan 2 orang oknum anggota polisi militer dan oknum anggota Kepolisian.

Menurut Ketua DPP SPPI, Indra Gunawan, barang-barang berharga seperti ijazah, emas,  alat-alat sekolah anak-anak, pakaian dan peralatan  alat rumah tangga diduga dirampas dari dalam rumah karyawan dan dibuang begitu saja di Waduk Km 1 Jalan Libo Jaya, Kecamatan Kandis.

“Pengosongan  terhadap 4 rumah karyawan korban PHK sepihak dilakukan secara paksa oleh sekelompok “preman” dihadapan anak-anak karyawan yang masih dibawah umur dan disaksikan oleh 2 orang anggota POM TNI dan oknum anggota Kepolisian,”ujar Indra Gunawan kepada awak media ini.

Indra Gunawan mengaku sangat prihatin atas musibah yang dialami karyawan Koperasi Air Kehidupan dan dugaan korban “kekerasan, pelecehan seksual,  dan premanisme “ pada saat pengosongan rumah dinas karyawan KAK, pada tanggal 2 Juni 2017.

Selain itu, menurut Indra, berjumlah 5 orang anak-anak karyawan korban PHK ini trauma akibat pengosongan rumahnya secara paksa oleh sekelompok preman yang diduga sengaja didatangkan oleh pihak KAK untuk merampas barang-barang dan  alat-alat sekolah anak-anak karyawan.

Berjumlah 41 Kepala keluarga (KK) karyawan KOP-AK korban PHK tanpa penetapan dari PHI dan tidak mendapat pesangon dari pihak KAK, padahal mereka sudah karyawan tetap selama 5 tahun lebih di Koperasi Air Kehidupan.

Kendati salah seorang karyawan KOP-AK bernama Dianto, pada tanggal 2 Juni 2017, telah melaporkan dugaan tindak pidana pengeroyokan terhadap dirinya pada saat pelaksanaan pengosongan rumah karyawan tersebut, namun hingga saat ini belum ada yang ditetapkan penyidik sebagai tersangka dalam kasus dugaan pengeroyokan tersebut.

Begitu juga, salah seorang karyawan bernama Jakiman, sudah melapor ke Polsek Kandis, pada tanggal 8 Juni 2017, dugaan pengosongan rumah secara paksa terhadap korban Ramauli Silalahi, Mangendar Malango, Candra Hutabarat dan Jakiman Situmorang di lingkungan Koperasi Air Kehidupan di Desa Sam-Sam.***(K.S).

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *