2 Anggota TNI “Kawal Koperasi Air Kehidupan Ilegal”

0
20

IMG-20170619-WA0006Siak,kompasriau-Pengurus Federasi Serikat Pekerja Perjuangan Indonesia (K-SPPI) di Desa Sam-Sam mempertanyakan keberadaan  2 (dua) anggota Polisi Militer TNI AD di perkebunan koperasi Air kehidupan (KOP-AK) yang beroperasi di kawasan Desa Sam-Sam,Kecamatan Kandis. Pasalnya, perkebunan koperasi air kehidupan dan PKS Mutiasa Samsam beroperasi secara ilegal di dalam kawasan hutan sesuai keterangan anggota DPRD Siak komisi II, Mhd Ariadi kepada awak media ini.

FB_IMG_1498218139020Dalam keterangan Mhd Ariadi Tarigan menyebut lahan perkebunan kelapa sawit Koperasi Air Kehidupan dan Aek Natio Group seluas 4500 hektar berada di dalam kawasan hutan.

“Kami sudah pernah melaporkan kasus itu ke KPK, tetapi sampai saat ini, operasional koperasi air kehidupan itu masih tetap lancar melakukan aktivitasnya di dalam kawasan hutan. Saya siap bersaksi kemanapun, bahwa lahan koperasi air kehidupan itu IMG-20170619-WA0003berada di dalam kawasan hutan,”ungkap Mhd Ariadi Tarigan sembari sambil memberikan satu bundel dokumen peta kepada tim awak media ini.

Terkait hal tersebut, Pasi Lidkrim Denpom 1/3 Pekanbaru, Kapten CPM, Hariadi, saat dikonfirmasi awak media ini, Selasa (1/8/2017), mengatakan ke 2 anggota TNI tersebut tidak ada hubungan dengan Denpom Pekanbaru, karena ke 2 anggota TNI tersebut sudah pindah ke kodim.

“Saya tidak tahu mas. Kalau tak salah mereka sudah MPP. Jadi tidak ada hubungannya dengan kita PM,”pesan Kapten CPM Hariadi via WhatsApp kepada awak media ini.

IMG-20170705-WA0000Belum lama ini, Komandan Distrik Militer (Dandim) 0303/Bengkalis, Letkol Inf Rizal Faizal, ketika dikonfirmasi via telepon genggam membenarkan, bahwa Desa Sam-Sam, kecamatan Kandis (lahan KOP-AK) berada di wilayah teritorial kodim 0303/Bengkalis.

Menurut Letkol Inf Rizal Faizal, bahwa kedua anggota TNI yang berada di koperasi air kehidupan Desa Sam-Sam tersebut adalah anggota POM.

“Tidak boleh sebenarnya TNI mengawal usaha seperti itu. Jadi kita tidak ada hubungan sama perusahaan itu. Kedua anggota itu bukan anggota kodim. Tadi sudah saya tanya Danramil saya, kedua anggota itu katanya anggota POM,”ujar Rizal Faizal kepada awak media ini.

Seperti dikabarkan media ini sebelumnya, bahwa sejumlah pengurus Serikat Pekerja Perjuangan Indonesia di Desa Sam-Sam menyebut  2 (dua) anggota Polisi Militer TNI AD mengawal perkebunan KOP-AK dan PT Dian Anggara Persada PKS Mutiara Samsam Kandis yang berada di Kecamatan Kandis.

“Kami dari pengurus SPPI mempertanyakan keberadaan ke 2 oknum TNI yang ikut memegang tangan karyawan korban PHK sepihak saat sekelompok “preman” melakukan pengosongan terhadap rumah karyawan tanpa penetapan pengadilan hubungan industrial. Tangan anggota kita korban PHK dipegang 2 orang anggota TNI, sementara oknum “preman” dibiarkan bebas melakukan aksinya melakukan pengosongan rumah itu. Kok bisa ikut-ikutan dua anggota POM itu membantu pihak koperasi untuk mengosongkan rumah dinas karyawan itu,”ungkap Ketua PUK Serikat Pekerja Perjuangan Indonesia, Thamrin Hutabarat kepada awak media ini baru-baru ini.

Ketika ditanya siapa nama kedua anggota polisi militer tersebut.? Dijawab Thamrin,”Kalau tak salah, anggota polisi militer itu bernama Salam Siagian dan bernama Rinaldi. Inikan masih ada fotonya berpakaian dinas lengkap ke dua angota TNI itu saat memegang tangan anggota kita di TKP, tetapi sekelompok preman bebas melakukan aksi untuk mengosongkan rumah dinas anggota kita,”ujar Thamrin dengan nada kecewa.

Menurut Thanrim, pihak koperasi air kehidupan bersama sekelompok “preman” melakukan tindakan secara paksa untuk mengosongkan rumah karyawan korban PHK sepihak tanpa penetapan pengadilan hubungan industrial, pada tanggal 2 Juni 2017.

Seluruh barang-barang dan satu unit sepeda motor dibawa keluar dari dalam rumah tersebut. Setelah itu, sekelompok “preman” menuju rumah karyawan bernama Ramauli Silalahi untuk mengosongkan rumah karyawan dan membawa barang-barangnya keluar dari perkebunan Koperasi Air Kehidupan.

Begitu juga rumah karyawan bernama Jakiman Situmorang dan Candra Hutabarat diduga melakukan pengosongan rumah yang disebut-sebut dipimpin langsung oleh M.Samosir. Tindakan pengosongan rumah karyawan tersebut disaksikan 2 orang oknum anggota polisi militer dan oknum anggota Kepolisian.

Barang-barang berharga seperti ijazah, emas,  alat-alat sekolah anak-anak, pakaian dan peralatan  alat rumah tangga diduga dirampas dari dalam rumah karyawan dan dibuang begitu saja di Waduk Km 1 Jalan Libo Jaya, Kecamatan Kandis.

“Pengosongan  terhadap 4 rumah karyawan korban PHK sepihak dilakukan secara paksa oleh sekelompok “preman” dihadapan anak-anak karyawan yang masih dibawah umur dan disaksikan oleh 2 orang anggota POM TNI dan oknum anggota Kepolisian,”ujar Thamrin kepada awak media ini.

Berjumlah 5 orang anak-anak karyawan korban PHK ini trauma akibat pengosongan rumahnya secara paksa oleh sekelompok preman yang diduga sengaja didatangkan oleh pihak KOP-AK untuk merampas barang-barang dan  alat-alat sekolah anak-anak karyawan.

 41 Kepala keluarga (KK) karyawan KOP-AK korban PHK tanpa penetapan dari PHI dan tidak mendapat pesangon dari pihak KOP-AK, padahal mereka sudah karyawan tetap selama 5 tahun lebih di KOP-AK.***(K.S).

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here