Terdakwa Helen Nora Dituntut 3 Tahun Penjara

0
18

Dumai, kompasriau-Sidang lanjutan perkara dugaan penipuan penerimaan CPNS, dengan terdakwa Helen Nora, Senin (1/8-2017), memasuki agenda pembacaan tuntutan dari JPU Kejari Dumai, Hengky Fransiscus Munte SH.

Dihadapan sidang yang dipimpin hakim majelis Renaldo Meiji Hasoloan Lumbantobing SH.MH dibantu hakim anggota Desbertua Naibaho SH.MH, dan Alfonsus Nahak SH.MH, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hengky Fransiscus Munte, menuntut terdakwa Helen Nora dengan hukuman selama 3 tahun penjara.

Sementara itu, atas tuntutan yang dibacakan JPU, terdakwa Helen Nora tidak terima atau merasa keberatan kalau dirinya dituntut selama 3 tahun penjara. Helen Nora di tuntut dengan dakwaan penipuan, pasal 378 KUHP, ancaman hukuman pasal ini paling tinggi 4 tahun penjara.

Bahwa, dalam perkara ini, terdakwa Helen Nora keberatan atas tuntutan JPU, adalah karena Helen Nora juga merasa sebagai korban dari tipu muslihat terdakwa Suhartaty alias Cici (perkara terpisah-red) notabene selaku pelaku utama dalam kasus ini.

Oleh karena dirinya tidak setuju dituntut selama 3 tahun penjara, maka terdakwa Helen Nora melakukan upaya pledoi atau pembelaan tertulis kepada hakim majelis atas tuntutan JPU tersebut. Pemebelaan tertulis dari Helen Nora akan disampaikan pada sidang berikutnya pecan depan.

Tuntutan dari JPU kepada terdakwa Helen Nora ini, tampak mengundang perhatian sejumlah pengunjung termasuk awak media. Kenapa tidak, bahwa JPU dinilai mengesampaingkan atau seakan mengabaikan keterangan dari terdakwa Helen Nora ketika Helen Nora diperiksa sebagai terdakwa dalam perkara ini.

Apapun penjelasan Helen Nora dihadapan sidang yang menyebut dirinya juga selaku korban atas tindak-tanduk atau tipu muslihat terdakwa Suhartaty alias Cici, dimana anak terdakwa Helen Nora 3 orang termasuk 16 orang keluarga Helen Nora turut ditipu Cici, ternyata bukan menjadi pertimbangan meringankan dari JPU.

Bukan itu saja, bahwa uang pengurusan yang diterima terdakwa Helen Nora dari para peserta pelamar CPNS bohong-bohongan di lingkungan kementerian perhubungan laut tersebut, seluruhnya sudah diserahkan terdakwa Helen Nora kepada Cici dan sudah diakui Cici, juga bukan menjadi pertimbangan JPU untuk menerapkan tuntutannya kepada Helen Nora, akan tetapi justru dikesampingkan JPU.

Hal ini dimungkinkan, karena ketika saat sidang pemeriksaan terdakwa Helen Nora dipimpin hakim Renaldo Meiji Hasoloan Lumbantobing SH.MH, JPU yang hadir saat itu adalah Jaksa Asep Yopie Budiman SH.

Memang, fakta persidangan ketika hakim majelis memeriksa terdakwa Helen Nora, saat itu hakim majelis yang bergiliran atau bergantian memeriksa terdakwa Helen Nora, tampak hakim majelis seakan tidak mendengarkan keterangan Helen Nora.

Contohnya, ketika Helen Nora dilemparkan pertanyaan oleh hakim, penjelasan Helen Nora selalu dipotong oleh hakim, sehingga Helen Nora tampak tidak sempurna memberikan penjelasan soal duduk perkara yang dialaminya.

Para majelis hakim yang menghujani pertanyaaan kepada Helen Nora, tampak seakan sama selalu menjegal atau memotong keterangan Nora dengan alasan hakim bahwa keterangan Helen Nora berbelit-belit.

Tuntutan JPU yang dibacakan Hengky Fransiscus menyebut, bahwa memberatkan hukuman terdakwa Helen Nora, karena perbuatan Helen Nora telah merugikan banyak orang dan katanya berbelit-belit memberikan keterangan.

Pantauan awak media ini, bahwa fakta yang muncul saat persidangan pemeriksaan terdakwa Helen Nora bukan berbelit-belit, akan tetapi karena upaya dan semangat Helen Nora saat menjelaskan apa adanya soal duduk perkara yang dialaminya selalu “dijegal”, sehingga Helen Nora kerab berupaya menjelaskan walau dipotong oleh hakim. Apakah hal itu berbelit-belit..?***  (Aston Tambunan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here