Hakim PN Dumai Jatuhkan Pidana Penjara Terhadap Cici Selama 5 Tahun

Dumai, kompasriau-Jaksa Penuntut Umum kejari Dumai, pekan kemarin menuntut terdakwa Suhartaty alias Cici  dengan hukuman selama 3 tahun penjara atas konsekwensi perbuatan terdakwa Cici melakukan perbuatan tindak pidana penipuan dengan modus penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) kejari Dumai, Asep Yopie Budiman SH, ketika pembacaan berkas tuntutan bagi Cici pekan lalu mengatakan, bahwa perbuatan terdakwa Suhartaty yang akrab disapa Cici ini terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 378 KUH Pidana.

 Oleh karena itu, atas perbuatan Cici tersebut Jaksa Asep Yopie Budiman SH, menuntut terdakwa Cici dengan hukuman selama 3 tahun penjara dikurangi masa hukuman yang telah dijalani Cici sebelumnya.

Akan tetapi, hakim Pengadilan Negeri (PN) kelas IA Dumai yang menagani perkara ini berpendapat lain atas tuntutan JPU Asep Yopie, yang menuntut terdakwa Cici hanya 3 tahun penjara saja.

Menurut hakim majelis yang dipimpin Aziz Muslim SH, dibantu hakim anggota Firman Khadafi Tjindarbumi SH MH dan hakim Liena SH M Hum dan Panitera (PP) Fransisca Manurung, dalam sidang yang digelar Selasa (29/10), mengatakan, bahwa atas perkara tersebut tidak ada yang meringankan perbuatan terdakwa.

Justru sebaliknya, hakim majelis ini menilai dan berpendapat, bahwa atas perbuatan terdakwa Cici dalam perkara penipuan penerimaan CPNS seolah diterima dan akan ditempatkan di lingkungan Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP) Dumai sangat meresahkan masyarakat.

Karena itu, atas perbuatan terdakwa Cici meresahkan masyarakat khususnya warga Kota Dumai, hakim tidak sependapat dengan tuntutan yang diajukan kepada Cici selama 3 tahun penjara, akan tetapi hakim menjatuhkan pidana perjara terhadap terdakwa Cici selama 5 tahun.

Menurut hakim, bahwa perbuatan terdakwa Cici terbukti secara sah dan menyakinkan bahwa Cici telah melakukan perbuatan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam pasal 378 junto pasal 65 ayat (1) KUH Pidana sebagaimana sebelumnya pasal yang didakwakan JPU kepada Cici.

Atas putusan hakim menghukum terdakwa Suhartaty dengan hukuman pidana penjara selama 5 tahun, Suhartaty maupun JPU menerima putusan hakim tersebut.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, bahwa perkara ini terkuak dan bergulir ke ranah hukum berawal dari akal bulus dan tipu-tipu penerimaan CPNS di kesyahbandaran Dumai (KSOP-red) oleh Cici.

Cici menghembuskan ada penerimaan CPNS jalur khusus lewat jalan tol di lingkungan kementerian perhubungan laut untuk ditempatkan di Kota Dumai antara tahun 2013 – 2014 lalu. Artinya, Suhartaty mengatakan ada kenalannya di kantor pusat perhubungan laut bisa langsung mengurus penerimaan CPNS itu.

Berangkat dari hal itu, melalui tetangga Cici memberitahukan soal adanya penerimaan CPNS tersebut kepada Helen Nora, maka Helen Nora lebih dahulu menawarkan anaknya untuk diurus Cici dalam penerimaan CPNS dimaksud.

Singkat Cerita, anak Helen Nora dan sejumlah anak keluarganya yang diurus Cici, diterima menjadi PNS di KSOP Dumai setelah memperoleh SK pengangkatan dan menjahitkan baju dinas KSOP bagi peserta yang menerima SK tersebut.

Selain SK pengangkatan dan menjahitkan baju disalah satu tukang jahit di Kota Dumai, sejumlah peserta yang menerima SK ini mendapat gaji rappel karena sudah beberapa bulan sejak mereka menerima SK.

Ternyata, SK yang diterima sejumlah peserta demikian dengan baju dinas maupun gaji rappel yang diterima seolah sudah menjadi PNS dilingkungan KSOP Dumai, adalah semua dikeluarkan Cici untuk mengulur-ulur waktu dan hanya  akal bulus serta modus yang diciptakan Cici untuk menarik minat warga atau korban lainnya melamar CPNS yang diurus Cici.

Kenapa tidak, dengan diangkatnya sejumlah peserta pelamar termasuk anak Helen Nora tiga orang menjadi PNS bodong, Helen Nora pun didatangi sejumlah warga agar anaknya diuruskan untuk masuk PNS di KSOP tersebut.

Helen Nora pun kordinasi dengan Cici, apakah Cici bisa mengurus warga yang datang kepada Helen Nora. Dalam hal itu, Cici menyanggupinya dengan persyaratan berbayar sejumlah uang untuk pengurusan.

Berangkat dari kesanggupan Cici menyebut bisa mengurus masuk ke KSOP, maka Helen Nora pun meminta peserta sekitar 56 orang pelamar untuk melengkapi dan menyerahkan persyaratan termasuk uang pengurusan dengan jumlah berpariasi, mulai dari Rp 75 juta hingga Rp 200 juta per orang.

Singkat cerita, karena penerimaan CPNS dimaksud hanya akal-akalan dan tipu-tipu Suhartaty alias Cici untuk meraup uang dari korbannya yang notabene berjumlah sekitar Rp 8,5 miliar, perbuatan bohong-bohongan Cici terkuak dan sejumlah korban melaporkan Cci ke aparat kepolisian polres Dumai.

Dalam perkara ini, Helen Nora yang merupakan bagian dari korban penerimaan CPNS ini juga turut dijadikan sebagai tersangka hingga terdakwa dan sudah di vonis oleh hakim dengan hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan.

Walau uang dari para korban melalui atau diterima oleh Helen Nora dan kemudian seluruhnya diserahkan kepada Cici dengan modus Cici untuk biaya pengurusan di kantor pusat perhubungan laut pusat, akan tetapi dalam kasus ini, Helen Nora juga turut dijadikan bertanggungjawab dalam perbuatannya karena merugikan pihak lain.*** (Tambunan).

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *