Oknum Polisi Diduga Beking “Kencing” CPO Marak Di Laut Dumai?

0
5

P_20171005_165727_1_pDumai, kompasriau-Petugas patroli menjaga keamanan di wilayah perairan laut Dumai Riau sebenarnya terbilang memadai dan cukup.

Akan tetapi, dengan jumlah aktivitas petugas patroli dari berbagai institusi itu, ternyata masih berbanding terbalik dengan kegiatan – kegiatan melawan hukum yang terjadi di wilayah laut Dumai.

MANURUNGSelain tindak kejahatan penyeludupan manusia masih terus terdengar, aktivitas jual beli Crude Palm Oil (CPO)  ilegal alias “kencing” CPO dari kapal oleh oknum-oknum anak buah kapal (ABK) kepada lawa-lawa kapal pom-pong masih “merajalela ” di laut Dumai.

Bukti masih “merajalelanya” perbuatan tindak pidana di wilayah laut Dumai, siang tadi, kamis (5/10), 19 orang terdakwa kasus “kencing” CPO di laut disidangkan perdana di Pengadilan Negeri (PN) klas IA Dumai.

Perkara kasus “kencing” CPO ini terdapat dua berkas perkara dan sidang perdananya dilakukan terpisah.

6 (enam) orang terdakwa  merupakan satu berkas disidangkan lebih awal oleh majelis hakim, Firman Khadafi Tjindarbumi, SH, Azis Muslim SH dan hakim Liena SH.M.Hum.

Sementara kasus yang sama perkara “kencing” CPO dengan terdakwa 13 orang ini, berikut disidangkan menyusul oleh majelis hakim yang sama.

Sidang kedua berkas perkara ini agendanya masih pembacaan dakwaan ke 19 terdakwa oleh Jaksa Agung Nugroho SH dari kejari Dumai.

Dalam dakwaan JPU Agung Nugroho menyebut bahwa kasus yang menjerat ke 6 terdakwa 6 itu adalah dugaan menggelapkan alias kencing CPO sekira 84 ton, pada hari jumat 21 juni 2017 lalu.

CPO yang digelapkan terdakwa, katanya diangkut oleh kapal Seroja 14 dari daerah Sampit Kalimantan Tengah. CPO tersebut merupakan milik perusahaan Wilmar Group Dumai.

Sementara itu, kasus yang menjerat ke 13 orang terdakwa lainnya, terjadi pada hari dan bulan yang berbeda, yakni kamis 13 Juli 2017 lalu.

13 orang terdakwa ini di dakwa menggelapkan CPO milik Wilmar kawasan industri Pelintung (KID) Dumai.

Sekitar 19 ton CPO dimaksud katanya dikencingkan para terdakwa saat kapal Tirta Samudra 22 tengah berada di perairan laut Selat Morong.

CPO milik perusahaan Wilmar ini disebut diangkut dari wilayah Bagendang Sampit Kalteng.

Atas perbuatannya, para terdakwa ini di jerat dengan pasal 374 junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUH Pidana.

Informasi lain yang berhasil dihimpun awak media ini menyebut bahwa mafia “kencing” CPO di laut Dumai “dibeking” oknum polisi yang berdomisili di Jalan Air Bersih Dumai dan kerjasama dengan mafia CPO yang berlokasi di Km 7, Bukit Timah, Kecamatan Dumai Selatan.

“Masak bapak tidak tahu permainan mafia CPO itu dibeking oknum polisi yang bertempat tinggal di jalan air bersih itu. Oknum polisi itu kerjasama dengan salah seorang marga Manurung penampung CPO “kelas kakap” di Bukit Timah. Oknum polisi itu sudah merupakan pemain lama di Dumai,”ungkap salah seorang warga berinisial JS di ruang tunggu Pengadilan Negeri Dumai, sembari sambil memberikan bukti foto kepada awak media ini.*** (tim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here