Ada Indikasi Oknum Pelaku Usaha Mencari Keuntungan Besar Soal Terjadinya Kelangkaan LPG 3 Kg

0
3

Dumai, kompasriau-Kelangkaan gas elpiji 3 kg di Kota Dumai akhir akhir ini mengundang perhatian sejumlah kalangan di Kota Dumai.

Selain Dinas Perdagangan dan anggota DPRD Dumai menyikapi soal kelangkaan elpiji 3 kg di tengah-tengah warga masyarakat Kota Dumai, Hiswana Migas pun turut andil dan prihatin soal fenomena kelangkaan elpiji 3 kg ini.

Menanggapi hal itu, anggota DPRD Dumai, Drs Paruntungan Pane,MM  menyarankan kepada semua agen dan pelaku usaha pangkalan LPG untuk menjalankan aturan dengan benar sesuai aturan hukum.

“Apabila kita temukan lagi ada penyimpangan di lapangan, tentu kita sebagai wakil rakyat akan segera untuk merekomendasikan ditindak tegas agen LPG yang “nakal” sesuai aturan,”tegas Paruntungan Pane kepada awak media ini.

Koordinator Himpunan Pengusaha Swasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Kota Dumai, Hj Yanti Komala, menganggap ada indikasi spekulan soal terjadinya kelangkaan LPG 3 Kg di Kota Dumai.

Di sela – sela pelaksanaan sidak oleh tim gabungan dari lintas instansi ini, Senin (30/10/2017), Yanti Komala kepada awak media ini menyebut bahwa DO permintaan LPG 3 Kg yang dikeluarkan PT Pertamina Pemasaran sudah melebihi kuota atau over.

Karena itu, Yanti Komala mengatakan apresiasinya dan setuju dilakukan inspeksi mendadak terhadap pelaku usaha di Kota Dumai agar “spekulan nakal” penyebab terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg ditemukan dan ditindak.

Menurut Yanti Komala, dengan ditemukannya beberapa rumah makan dan kedai kopi menggunakan elpiji 3 kg, merupakan salah satu bukti penyebab terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg di Kota Dumai.

Penyaluran gas elpiji 3 kg ke tempat rumah makan dan kedai kopi dengan jumlah banyak sebagaimana ditemukan, kata Yanti Komala, juga sebuah bentuk penyalahgunaan penyaluran dari pihak pangkalan.

Karena itu kata Yanti, pangkalan nakal yang meyalah gunakan penyaluran gas elpiji 3 kg atau tidak tepat sasaran dimintanya untuk diambil tindakan sanksi atau izinnya dicabut.

“Itu baru sampel yang ditemukan di beberapa tempat. Bayangkan kalau pelaku usaha yang lain turut menggunakan elpiji 3 kg, maka kelangkaan akan terus terjadi. Karena itu pengawasan dari lintas instansi dan berbagai pihak diharapkan harus mengawasi pendistribusian gas elpiji 3 kg itu”, ujar Yanti Komala seakan berharap.***(Tambunan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here