Pelaku Pelanggar Hukum Di Wilayah Hukum Polda Riau Merajalela?

0
4
MANURUNG
Tempat penampungan CPO ilegal di KM-7, Bukit Timah,Kota Dumai tanpa memiliki izin usaha dari Pemko Dumai.

Pekanbaru,kompasriau-Hingga saat ini, oknum pelaku pelanggar hukum di wilayah hukum Polda Riau diduga masih merajalela secara terang-terangan di sepanjang pinggir jalan raya lintas Dumai -Pekanbaru. Seperti di wilayah hukum Kecamatan Bukit Kapur dan Kecamatan Dumai Selatan Bukit Timah KM-7 dan KM-10 misalnya, oknum pelaku penampung Crude Palm Oil (CPO) masih bebas melakukan aktivitasnya setiap hari seakan tidak ada tindakan hukum dari aparat penegak hukum di daerah itu.

Hal tersebut diungkapkan B.Pandiangan kepada tim kompasriau dan pengurus LSM di Pekanbaru,Rabu (1/11/2017).

Menurut Pandiangan, bahwa tempat mafia yang berada di KM 10 Bukit Timah dilelola bernama Yusuf Purba dan tempat mafia CPO di KM-7 disebut dikelola marga Manurung bebas beroperasi secara terang-terangan tanpa memiliki izin usaha dari Pemerintah.

Begitu juga tempat penampungan CPO yang berada di wilayah hukum Polsek Bukit Kapur, dikelola Raja yang tempat Tinggal di Kandis, bebas beroperasi untuk menampung CPO dari puluhan unit truck yang datang dari berbagai pabrik kelapa sawit (PKS).

Tempat mafia inti sawit dan CPO yang berada di Kecamatan Mandau-Duri KM 9 dikelola Zulbacok daftar pencarian orang (DPO) Polsek Sungai Sembilan Kota Dumai, bebas beroperasi menampung inti sawit dan CPO dari truck jasa angkutan CV TS.

Selain itu, ada lagi tempat mafia CPO KM-9,Kecamatan Mandau yang disebut-sebut dikelola bermarga Tobing yang berdomisili di KM-12 Kecamatan Mandau-Duri.

“Tempat-tempat mafia inti sawit dan CPO itu terindikasi dibiarkan oknum petinggi aparat penegak hukum.Buktinya, walaupun Julbacok daftar pencarian orang oleh penyidik Polsek Sungai Sembilan, tetapi sampai saat ini, tempat mafia Julbacok itu masih bebas merajalela menampung inti sawit dan CPO dari puluhan unit truck CV TS,”ungkap Pandiangan.

Terkait kasus tersebut,Kapolsek Mandau, Kompol Ricky Rikardo, ketika dikonfirmasi via pesan singkat ke nomor 0823230120……, namun hingga berita ini dimuat, belum ada tanggapannya.

Terkait gencarnya pemberitaan di media online kompasriau.com untuk menyoroti aktivitas mafia inti sawit dan mafia CPO ilegal di wilayah hukum Polda Riau, saat ini menjadi perbincangan sejumlah wartawan dan pengurus LSM  di Pekanbaru.

Pasalnya menurut Pandiangan, bahwa nama Zulbacok DPO yang sudah lama terdengar mengeluti dunia usaha tempat mafia inti sawit dan CPO di wilayah hukum Polda Riau, namun sampai saat ini masih bebas berkeliaran untuk melakukan aktivitas di bidang penampungan inti sawit  CPO secara ilegal dari truck angkutan CV TS yang berkantor di KM-9,Kecamatan Mandau.

Hal tersebut terungkap berawal dari perkara tindak pidana 3 (tiga) orang sopir jasa angkutan CV TS di kota Dumai yang sudah divonis pidana penjara di Pengadilan Negeri Dumai, bahwa ke tiga orang sopir tersebut mengakui dipersidangan diperintahkan humas CV TS bernama Udin Pelor DPO untuk berhenti di tempat mafia Julbacok di KM-9.

Dikatakan Pandiangan, sejak gencarnya pemberitaan di media online kompasriau.com terkait tempat mafia CPO dan inti sawit ilegal tersebut membuat dirinya sebagai narasumber merasa kurang nyaman, karena tidak biasanya hampir setiap malam datang OTK nongol di depan rumahnya dengan mengendarai mobil pribadi gonta ganti tanpa tujuan yang jelas.

“Untuk itu, kita minta kepada Kapolda Riau agar menindak tegas tempat-tempat penampungan CPO dan inti sawit yang merajalela di wilayah hukum Polda Riau. Dalam waktu dekat, saya akan melaporkan kasus ini secara resmi kepada aparat di Pekanbaru maupun di Jakarta, karena kuat dugaan tempat penampungan CPO itu “dilindungi” oknum aparat,”ungkap Pandiangan mengahiri ucapannya.

Seperti dikabarkan media ini sebelumnya, bahwa bernama Jauhari, Alex dan Heri yang merupakan sopir truck jasa angkutan CV TS pengangkut inti sawit dari PT Padasa Enam Utama Kebun Kalianta Dua Kampar berhenti di tempat mafia Julbacok untuk menukar inti sawit yang diangkutnya dengan cangkang sebanyak kurang lebih 120 ember per masing-masing truck yang dibawa Jauhari dan kawan-kawannya.

Menurut Jauhari, bahwa Alexander  dan Heri Edi sebagai sopir jasa angkutan CV TS diperintahkan mandornya bernama Udin Pelor DPO untuk memberhentikan kendaraan truck bermuatan inti sawit tersebut di tempat mafia Julbacok.

Jauhari dan kawan-kawannya mendapat uang masing-masing sekitar Rp 4 juta dari hasil menggantikan muatan inti sawit milik orang lain dengan cangkang di tempat Julbacok yang berada di KM-9,Kecamatan Mandau.

Menurut Alexander, setelah ke 3 mobil truck tersebut sampai di PT Ivo Mas Tunggal di kecamatan Sungai Sembilan, kota Dumai, pihak PT Ivo Mas Tunggal menolak untuk dibongkar muatan truck tersebut, karena dari hasil pemeriksaan pihak PT Ivo Mas Tunggal, muatan inti sawit truck tersebut bermasalah  atau berubah kadar kotorannya.

Pada tanggal 21 Juni 2017, Alexander dan saksi merasa dirugikan dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sungai Sembilan-Dumai.

Sementara itu, Humas CV TS, Tolo Sirait, ketika dikonfirmasi awak media ini via telepon genggamnya, Senin (16/10/2017), membenarkan terdakwa Jauhari, Alexander dan terdakwa Heri Edi adalah sopir truck jasa anggutan CV Teman Setia yang mengangkut muatan inti sawit dari PT Padasa Enam Utama Kebun Kalianta Dua,Kampar dengan tujuan kota Dumai.

Tolo Sirait mengaku sudah 6 tahun bekerja sebagai humas di jasa angkutan CV TS yang berada di Kecamatan Mandau, tetapi dia tidak pernah menerima uang atau imbalan dari oknum sopir truck “nakal” pengangkut inti sawit tersebut.

Julbacok dan Udin Pelor, belum berhasil ditemui awak media ini, guna konfirmasi terkait kasus tersebut.***(LY/AF/KI).

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here