Lelang LPSE Pemko Dumai “Tidak Sehat”?

0
106

Dumai,kompasriau-Proses kegiatan pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Dumai hingga saat ini dikabarkan masih berlangsung.

Dari beberapa paket lelang diketahui sudah ada selesai proses tender, bahkan dikabarkan juga sudah ada penandatangan kontrak oleh perusahaan pemenang tender. Namun beberapa paket lelang masih ada proses masa sanggahan.

Pasca proses lelang paket proyek di lingkungan Pemko Dumai yang dilaksanakan panitia lelang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), ternyata tidak lepas dari perhatian antusias dan sorotan negatif elemen masyarakat dan beberapa oknum pelaku usaha kontraktor itu sendiri.

Dari beberapa sumber elemen masyarakat maupun oknum kontraktor di Kota Dumai dalam suatu kesempatan kepada media ini mengungkapkan adanya indikasi permainan tidak sehat, dugaan KKN atau “kong kalingkong” dalam proses lelang untuk memenangkan perusahaan tertentu.

Menurut beberapa sumber yang enggan namanya di publikasi menyebut cukup beralasan melihat adanya dugaan indikasi terjadi KKN dalam proses lelang ketika panitia menentukan kontraktor pemenang karena sudah adanya lebih dahulu dugaan “pemetaan” terhadap perusahaan perusahaan yang akan dimenangkan.

Namun soal adanya informasi dugaan terjadinya permainan tidak sehat dan dugaan KKN dalam proses lelang paket dimaksud, awak media ini belum mendapat klarifikasi resmi dari panitia lelang. Konfirmasi pesan singkat dilayangkan awak media ini ke no WhatsApp, ketua panitia lelang, Vera, Selasa (17/4/2018), belum ada jawaban hingga berita ini dirilis.

Sementara itu, selain adanya tudingan miring dan indikasi dugaan permainan tidak sehat hingga terjadi dugaan KKN dalam proses lelang, sumber ini juga mengungkapkan ada potensi pemborosan keuangan daerah pasca lelang tersebut.

Timbulnya potensi pemborosan atau kerugian keuangan negara pasca lelang paket tersebut, menurut sumber terjadi dengan banyaknya perusahaan pemenang lelang diambil dari penawaran anggaran proyek terendah hingga penawaran ranking terakhir atau membanting harga 1 % dari pagu anggaran. “Fenomena ini yang mengakibatkan kerugian negara,”imbuh sumber.

Menurut sumber, setidaknya belasan paket lelang yang anggarannya miliaran rupiah pemenangnya adalah perusahaan yang penawarannya membanting harga dan ranking terendah atau penawaran lelang sangat rendah.

“Seharusnya panitia lelang bisa menghemat anggaran dari seluruh biaya paket yang ada untuk dipakai pemerintah penganggaran kepentingan yang lain”, ungkap sumber yang sudah melanglang buana sebagai kontraktor itu.

Disinggung soal perusahaan yang penawarannya tinggi dimenangkan akan berpengaruh pada mutu proyek atau peluang kontraktor “mengurangi” bahan atau tidak sesuai besaran teknis (bestek) dalam pengerjaan proyek untuk memperoleh untung yang diharapkan, menurut sumber hal tersebut merupakan tanggung jawab dinas terkait dan konsultan pengawas untuk melakukan pengawasan maksimal kegiatan proyek,’jelasnya.

Sementara itu, terkait adanya informasi dari publik soal dugaan indikasi permainan tidak sehat dengan memenangkan perusahaan penawaran ranking terakhir, awak media ini juga belum mendapat klarifikasi dari panitia lelang.***(Tambunan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here