Sidang Lanjutan Perkara 700 Ballpress Seludupan

0
40

DUMAI, KOMPASRIAU.com-Kapal KM Teguh 1 pengangkut 700 karung lebih kain bekas alias ballpress saat bertolak dari salah satu pelabuhan di Port Klang Malaysia, pada tanggal 23 Mei 2018 lalu adalah dipagi hari.

Akan tetapi, ketika perjalanan KM Teguh 1 dari pelabuhan di Malaysia sudah tiba malam hari diperairan laut selat Bengkalis, lampu Navigasi Kapal Teguh 1 tidak menyala alias padam.

Lampu Navigasi KM Teguh 1 tidak menyala, ternyata bukan karena ada kerusakan lampu, akan tetapi merupakan perbuatan unsur kesengajaan dari pihak kapal, dan hal tersebut merupakan tipu muslihat yang dilakukan, guna mengelabui para petugas yang berseleweran di laut.

Namun, untung tak dapat diraih dan tidak berpihak terhadap ABK maupun Nakhoda KM Teguh 1, apalagi terhadap pemilik barang 700 karung kain bekas alias kain rombengan tersebut, karena keburu ditangakap petugas keamanan laut.

Modus mati lampu navigasi kapal rupanya mengundang perhatian petugas dilaut, bahkan hal itu telah tergambar oleh petugas TNI Al yang melakukan patroli rutin. Karena timbul kecurigaan terhadap kapal KM Teguh 1, maka petugas AL memeriksa Surat Izin Berlayar dan manifes barang 700 ballpress diamankan petugas keamanan TNI AL.

Hal tersebut diatas merupakan bagian dari pengakuan terdakwa kapten/nakhoda KM Teguh 1, Bahren dihadapan sidang lanjutan agenda pemeriksaan terdakwa Bahren,Kamis (9/8/2018).

Sidang dipimpin oleh hakim majelis Aziz Muslim SH dibantu hakim anggota Muhammad Sacral Ritonga SH dan hakim Renaldo MH Tobing SH MH. Samentara JPU dihadiri oleh Jaksa Heri Susanto, SH.

Terdakwa Nakhoda KM Teguh I, Bahren, dimuka sidang membenarkan kalau kapal yang dinakhodainya mengangkut kain bekas 700 karung lebih tanpa dilengkapi surat manifest barang.

Selain itu, Surat Izin Berlayar (SIB) dari instansi berwenang juga diakui terdakwa tidak dikantonginya alias tidak ada, hal itu karena kapalnya menyeludupkan barang larangan yang tidak dibolehkan masuk ke wilayah pelabuhan di Indonesia.

Terkait lampu navigasi dimaksud, terdakwa ini memang mengakui pihaknya sengaja tidak menghidupkan lampu navigasi, kata terdakwa guna mengelabui petugas di laut.

Menurut nakhoda ini, kain bekas 700 karung itu akan di bawa ke Kota Dumai karena pengusaha kain rombengan dimaksud pemesannya berada di Kota Dumai.

Sebagaimana diakui Jaksa Hengki Fransiscus Munte SH kepada majelis hakim dalam sidang sebelumnya, BB 700 ballpress kain bekas tersebut masih berada di gudang Lanal Dumai, termasuk kapal KM Teguh 1 milik Aswat warga Tanjung Balai, berada dalam pengawasan pihak lanal juga.***(Tambunan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here