Nakhoda KM Jelatik 8 Hanya Dihukum Pidana Denda Rp 2 Juta

0
100

DUMAI, KOMPASRIAU.com-Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) kelas IA Dumai yang memeriksa perkara kelebihan penumpang KM Jelatik 8, bergulir pada sidang lanjutan agenda pembacaan vonis bagi terdakwa Nopendra, Senin (15/10/2018).

Majelis hakim yang memeriksa dan memutus perkara ini dipimpin hakim Dewi Andriyani SH, dengan hakim anggota Adiswarna Chainur Putra SH dan hakim Alfonsus Nahak SH.

Pada sidang tersebut, majelis hakim dalam amar putusannya menjatuhi hukuman bagi terdakwa Nopendra, Nakhoda Kapal penumpang KM Jelatik 8 hanya dengan hukuman denda uang sebesar Rp 2 juta.

Menurut majelis hakim, perbuatan terdakwa Nopendra terbukti berlayar menakhodai KM Jelatik 8 tidak laek laut maka melanggar pasal 302 ayat (1) jo pasal 117 ayat (2) huruf a UU RI nomor 17 tahun 2008 Tentang Pelayaran.

Putusan majelis hakim ini lebih rendah dari tuntutan JPU Hengky Fransiscus Munte SH pada sidang sebelumnya.

Dimana Jaksa Hengky menuntut terdakwa Nopendra yakni dengan tuntutan hukuman denda sebesar Rp 3.500.000,-.

Sebagaimana diketahui, kapal penumpang KM Jelatik 8 dinakhodai terdakwa Nopendra beranjak ke ranah hukum berawal ketika distop dan diamankan petugas kapal patroli KRI Pulau Rusa 726.

Dimana diketahui, setelah kapal KM Jelatik 8 diperiksa petugas TNI AL KRI Pulau Rusa 726, terdapat muatan penumpang kapal melebihi kapasitas muatan kapal.

Seyogianya, kapal KM Jelatik 8 hanya diperbolehkan mengangkut penumpang dengan jumlah 165 orang saja, akan tetapi fakta yang jumlah penumpang ditemukan dalam kapal telah berjumlah 273 orang.

Anehnya, dari jumlah penumpang yang diangkut KM Jelatik 8 sebanyak 273 orang, hanya 113 orang saja yang terdaftar dalam manifest, sedangkan 160 orang tidak terdaftar.

Diketahui, bahwa rute pelayaran mengakut penumpang umum yang dilakukan kapal KM Jelatik 8 adalah pelabuhan Duku Pekanbaru – pelabuhan Meranti Selat Panjang dan sebaliknya.

Muatan penumpang kapal KM Jelatik 8 yang melebihi kapasitas muatan/over kapasitas, dimungkinkan dapat mengakibatkan atau mengganggu stabilitas dan keseimbangan kapal saat berlayar sehingga mengancam keselamatan penumpangnya sebagaimana banyak terjadi tahun belakangan ini.

Maka dengan kondisi tersebut, majelis hakim berpendapat, bahwa nakhoda kapal (terdakwa Nopendra) yang melanjutkan perjalannya berlayar menakhodai KM Jelatik 8 mengangkut penumpang tidak laek laut.***(Tambunan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here