Netizen Sosmed Dumai Mendukung Tengku Sayyed Hasrian Jadi Ketua Karang Taruna

0
115

DUMAI,KOMPASRIAU.com-Netizen penguna sosial media Facebook maupun Whatsapp dihebohkan dengan pencalonan ketua Karang Taruna Kota Dumai.

Warganet tersebut berharap dan mendukung sepenuhnya Tengku Sayyed Hasrian Al Hinduan menjadi Ketua Karang Taruna Kota Dumai.

Hal ini di ungkapkan Netizen akun Facebook Said Habib dan Syarifah Hasnita. Salah satu, dari sekian banyak netizen, akun Facebook Joe Salimakbar II, berkomentar “Lanjutkan..!!,”  Kamis (24/7/2020).

Saat Kompasriau.com menghubungi akun Facebook Joe Salimakbar II tentang kebenaran hal tersebut, dibalas “lanjutkan, sangat mendukung sepenuhnya. Tengku bagus, dan punya waktu banyak untuk berbagi info maupun pertolongan. Saya lihat pantas dan layak karena scop nya Dumai. Tengku Sayyed Hasrian punya link dan bisa berkomunikasi secara vertikal dan horizontal untuk menjadi ketua Karang Taruna Kota Dumai.”

“Semoga doa kami sebagai masyarakat dapat terkabulkan, Tengku Sayyed Hasrian Al Hinduan menjadi ketua Karang Taruna Kota Dumai sehingga sosok muda yang penuh perhatian kepada rakyat kecil khusus nya ketenagakerjaan bisa membawa perubahan kedepan,” ungkap Erdiyanto, salah seorang warga sosial media saat di temui.

Erdiyanto mengatakan, sosok Tengku Sayyed selalu terus mau berjuang demi masyarakat untuk semua orang, khususnya para pekerja dan pencari kerja. Maju terus demi masyarakat kota Dumai. Saya siap mendukung dan siap membantu. Karena selama ini beliaupun suka bekerja secara sosial tanpa ada bayaran. Saya senang kalau ada orang yang mau memajukan pemuda dan pemudi kota Dumai. Jaya truss Tengku Sayyed Hasrian,” jelasnya saat dihubungi melalui Whatsapp.

“Selain sosok yang berbasicnya bidang ketenagakerjaan, juga sangat ramah dan peduli rakyat  kecil, juga sosok yang siap membantu. Sehingga kami percaya sosok Tengku Sayyed Hasrian akan membawa perubahan dan angin segar di tanah Putri Tujuh ini,” ujarnya

Saat Tengku Sayyed Hasrian Al Hinduan diwawancara, beliau  menjelaskan “tugas pemimpin menghidupkan, menggerakkan, dan mengarahkan. Banyak orang berkeinginan menjadi pemimpin  bukan dari keinginan masyarakat, tetapi setelah berhasil, ternyata tidak semuanya mengerti tugas yang seharusnya dilakukan. Sebagai seorang pemimpin, mereka seharusnya mengerti sikap yang seyogyanya dikembangkan, arah yang diinginkan, dan pekerjaan yang akan dilakukan. Pemimpin yang tidak mengerti hal dimaksud, maka arah organisasi yang dipimpin menjadi tidak jelas, akan dibawa kemana visi misi  untuk anggota dan masyarakatnya.”

“Pemimpin sebagaimana digambarkan tersebut, ternyata jumlahnya tidak sedikit, dan berada di berbagai bidang dan juga level kepemimpinan. Organisasi yang sedang dipimpin oleh orang yang tidak paham terhadap tugasnya itu, biasanya menjadi stagnan, rutin, dan akhirnya membosankan. Selain itu, suasana organisasi yang dipimpin oleh orang yang tidak cakap, biasanya tumbuh saling tidak percaya, saling menyalahkan orang lain, dan juga gosif-menggosip,” ucapnya.

“Tugas pemimpin itu sebenarnya sederhana saja, yaitu menghidupkan, menggerakkan, dan mengarahkan terhadap orang-orang yang sedang dipimpinnya. Para pemimpin, apalagi di zaman demokrasi seperti sekarang ini, sebenarnya mereka telah memiliki legitimasi yang kuat. Seseorang menjadi pemimpin biasanya melalui seleksi yang ketat, sehingga mereka itu sebenarnya telah mendapatkan legitimasi yang cukup. Kepercayaan dan kewibawaan yang dimiliki sudah cukup digunakan sebagai bekal untuk menunaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya,” sambungnya

“Kekuatan penggerak yang dimiliki oleh para pemimpin, seharusnya bukan berupa uang, perilaku menakutkan, ancaman, dan sejenisnya. Melainkan berupa ketulusan, keinginan masyarakat, wawasan organisasi yang jelas, dan perhatian terhadap semua orang-orang yang dipimpinnya. Biasanya orang akan mendengarkan dan mengikuti para pemimpin yang telah membuktikan atas ketulusannya. Penilaian bahwa, seseorang memiliki ketulusan bukan berasal dari ucapannya, janji-janjinya, atau kesanggupannya. Melainkan akan dilihat dan disimpulkan dari perbuatannya. Disebut sebagai orang tulus, selain tampak dari kemauannya berjuang juga dari kesediaannya berkorban,” bebernya.

“Pemimpin yang diketahui bahwa dirinya ingin dilayani dan apalagi dilihat banyak orang ternyata mementingkan diri sendiri, maka yang bersangkutan akan dianggap tidak tulus. Pemimpin seperti itu tidak akan berhasil menghidupkan semangat anak buahnya, bahkan justru sebaliknya, yakni mematikan semangat kerja. Pemimpin harus mampu menujukkan bahwa dirinya tulus, mau berjuang memajukan organisasinya, dan ada kesediaan berkorban. Pemimpin yang berkeinginan menggerakkan semua kekuatan organisasinya maka yang bersangkutan harus menunjukkan sifat-sifat mulia yang dimaksudkan itu,” ujarnya.

“Pemimpin yang memiliki karakteristik sebagaimana dikemukakan di muka, akan diikuti oleh para pengikut atau anak buahnya. Orang pada umumnya menyukai ketulusan, ketauladanan, kemajuan, pekerja keras, dan pejuang yang diikuti oleh kesediaan berkorban suka menolong semua orang. Jiwa mulia seperti itu, manakala ada pada diri seorang pemimpin, maka akan segera diikuti oleh orang-orang yang sedang dipimpinnya. Bahkan tidak sekedar dicintai dan diikuti, tetapi sang pemimpin dimaksud juga akan dibela dengan semua kekuatan yang ada. Orang yang digambarkan seperti itu akan bagaikan accu yang mampu menghidupkan dan sekaligus menggerakkan berbagai komponen sebuah mesin,”pungkasnya.

“Pemimpin yang berharap berhasil menghidupkan dan sekaligus menggerakkan semua bawahannya, maka tidak boleh mengedepankan kepentingan dirinya sendiri. Selain itu, pemimpin harus mampu menjauhkan perilaku transaksional. Apalagi bila dirasakan oleh banyak orang telah memperdaya mereka yang sedang dipimpinnya. Pemimpin harus berakal tetapi jangan sekali-kali tampak mengakali  anak buahnya. Siapapun ingin diperlakukan secara jujur, penuh dengan ketulusan, diberikan harapan masa depannya yang  lebih baik. Perilaku pemimpin seperti itu akan mampu menghidupkan dan sekaligus menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya,” tutup pria humanis tersebut.
Penulis : Effendy Sitompul

Editor  : Nelson

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here